5cm.
Pengarang : Donny Dhirgantoro
Cerita
ini dimulai dari sebuah tongkrongan lima orang yang mengaku dirinya
“manusia-manusia agak pinter dan sedikit tolol yang sangat sok tahu” yang telah
kehabisan pokok bahasan pada waktu nongkrong sehingga akhirnya cuma bisa
ketawa-ketiwi. Mereka berlima adalah Arial, Riani, Zafran, Genta dan Lan. Arial
adalah sosok yang paling handsem diantara mereka semua. Riani pakai kacamata ia
adalah sosok yang cantik, cerdas dan seorang N-ACH sejati.
Zafra, adalah seorang penyair yang kebanyakan bimbang dalam hidupnya. Lan, ia adalah tokoh yang paling gendut, subur diantara mereka dan kepalanya botak plontos. Genta ia dianggap “the leader”, dengan badan yang ideal dengan rambut lurus yang berjambul.
Sekarang
waktu menunjukkan pukul setengah tiga lebih, mereka berlima dengan barang bawaan mereka yang sama dengan rombongan pecinta alampun, menuju ke kereta yang siap
mengantar mereka ke tujuan. Kereta ekonomi Matarmaja yang entah berapa lama melayani trayek
Malang-Jakarta dan sebaliknya ini terlihat tampak begitu tua dan kumuh dengan
beberapa kaca yang telah pecah. Setelah membereskan barang bawaan, mereka semua
duduk, berhadap-hadapan.
Setelah mereka tiba di stasiun Malang. Matahari sore menyambut, Pada waktu sore itu di Tumpang banyak sekali kesibukan jip-jip menunggu pendaki yang mulai berdatangan dari berbagai daerah. Penampilan mereka mirip semua karena memang mereka memiliki satu tujuan yang sama yaitu Mahameru.
Setalah
itu mereka mulai melangkah, menyusuri jalan berbatu di desa yang kemudian berbelok
ke jalan setapak mungil menuju ke punggung Gunung Mahameru. Perjalanan terus
berlanjut menembus pepohonan di punggung mahameru.
Puncak Mahameru terlihat seperti sebuah gundukan pasir yang besar dengan taburan batu karang dimana-mana. Jalur pendakian terlihat terang di terangi sinar bulan dan cahaya senter dari para pendaki Gunung Mahameru.
Matahari pagi mulai menampakkan sinarnya, sinar matahari pagi yang hangat menyapa tubuh dingin mereka. Keenam anak itu seperti melayang saat menjejakkan kaki di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Waktu seperti berhenti sejenak, dataran luas berpasir itu seperti sebuah papan besar yang menjulang dengan indah di ketinggian menggapai langit. Di sekeliling mereka tampak langit kebiru-biruan dengan sinar matahari yang begitu dekat. Awan putih mulai berkumpul melingkar di bawah mereka. Asap putih yang tebal membubung di depan mereka berada di mana-mana. Para pendaki nampak berbaris teratur di puncak Mahameru. Di depan barisan tertancap tiang bendera dari bambu berdiri sendiri dengan background kepulan kabut Mahameru dan langit yang kebiru-biruan.
“Biarkan keyakinan mu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan mu. Da setelah itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang akan selalu berdiri. Percaya pada 5 centimeter di depan kening kamu” Kata yang diucapkan Zafran dengan penuh yakin.

0 Komentar