Judul Buku : Max Havelaar
Penulis : Multatuli
Penerjemah : Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit : Qanita
Tahun Terbit : 2018
Jumlah Halaman : 480 halaman
Ukuran Buku : 20,5 cm
ISBN : 978-602-1637-45-6
Cetakan : Keempat belas
Novel Max Havelaar dipersembahkan penulis kepada saudara-saudara sebangsanya yang memperkenalkan bangsa Belanda pada pemerasan luar biasa yang dirasakan oleh penduduk asli Hindia Belanda. Novel ini mengisahkan kekejaman sistem tanam paksa yang menyebabkan ribuan pribumi kelaparan, miskin, dan menderita. Mereka diperas oleh kolonial Belanda dan pejabat pribumi korupsi yang sibuk memperkaya dirinya.
Novel ini ditulis oleh Eduard Douwes Dekker dengan nama pena Multatuli. Eduard telah mengabdi selama 18 tahun sebagai pegawai pemerintahan Hindia Belanda. Karir Multatuli sebagai penulis berlangsung 18 tahun, sama seperti masa karirnya sebagai pegawai pemerintah. Multatuli kemudian mengasingkan diri ke Jerman dan meninggal pada Februari 1887.
Cerita ini dimulai dengan menceritakan seorang makelar kopi, bernama Batavus Droogstoppel. Pada suatu malam Droogstoppel bertemu dengan Sjaalman teman lamanya yang menyelematkannya dari orang Yunani. Droogstoppel tidak terlalu senang bertemu dengan Sjaalman. Namun jika bukan karena Droogstoppel yang bertahan buku ini mungkin tidak ada. Alasannya karena setelah pertemuan itu Sjaalman meminta Droogstoppel untuk menjadi penjamin dalam penerbitan buku Max Havelaar. Droogstoppel pada awalnya menolaknya, tapi saat dia menyadari adanya keuntungan yang bisa diperolehnya, dia bersedia.
Setelah pertemuan itu, buku ini mulai dibuat. Droogstoppel ingin melibatkan Tuan Stern sebagai salah satu pengisi bab-bab yang ada dalam buku ini. Akhirnya mereka membuat beberapa persyaratan-persyaratan, salah satunya Tuan Stern harus menyumbang dua bab setiap Minggu. Tetapi pada saat pembuatan buku, Tuan Stern mengalami kesulitan dalam memilih bahan-bahan dan beberapa ungkapan yang tidak dimengerti nya. Hal ini membuat Droogstoppel harus menemui Sjaalman, tapi bukannya bertemu dengan Sjaalman, dia justru bertemu dengan istri dan anak-anaknya Sjaalman. Namun, Sjaalman akhirnya menemui Droogstoppel untuk memberikan informasi yang ditanyakan.
Pada bab pertengahan dan selanjutnya, alur dan latar berganti ke daerah Lebak, Banten. Keadaan Lebak di cerita ini sangat buruk dengan jalanannya yang rusak, berbeda dengan Pandeglang yang masih lebih baik. Daerah Lebak ini dipimpin oleh seorang Adipati yang sudah tua yang memiliki asisten bernama Verbrugge. Pada suatu hari, datanglah seorang asisten residen baru bernama Max Havelaar, dia dikenal karena tulisannya dan juga karena keramahan dan kepintarannya.
Max Havelaar mempunyai istri bernama Tine. Tine merupakan sosok istri yang cantik dan baik. Tine membaur dengan penduduk pribumi dan sering meminta Max untuk menolong mereka. Max dan Tine memiliki reputasi yang baik di mata penduduk pribumi. Max tidak pernah segan-segan untuk menolong mereka meskipun dia terjerat utang banyak karenanya. Max tidak menyukai ketidakadilan dari Belanda kepada penduduk pribumi.
Seiring berjalannya cerita Max Havelaar sering berdiskusi dengan Verbrugge tentang lebak. Dia bercerita bahwa di Padang terdapat pemalsuan dan penyelewengan data, sama halnya seperti di Lebak Max sempat melaporkannya kepada pemerintah pusat Belanda di Padang, namun ditolak dan dia akhirnya dipindah tugaskan ke Lebak.
Penyelewengan dan pemalsuan data yang ditemukan oleh Max Havelaar diantaranya adalah sistem tanam paksa yang di mana penduduk pribumi diharuskan untuk menanam kopi, padahal tanah lebak tidak cocok untuk ditanami kopi. Max merasa kebijakan dari pemerintah Belanda tidak benar dan hanya akan menimbulkan kerugian saja. Max juga menemukan bahwa keadaan yang terjadi di Jawa dilaporkan baik-baik saja, padahal kondisinya sangat prihatin karena kondisi penduduk pribumi yang sulit. Banyak dari mereka yang kelaparan dan kekurangan uang karena gagal panen, belum lagi mereka juga harus tetap membayar pajak kepada pejabat Eropa dan Bumiputera. Selain dari kedua itu, dia juga menemukan bahwa laporan keuangan daerah Lebak tidak menunjukkan keadaan yang sebenarnya alias di palsukan.
Semua penyelewengan dan tidak ketidakadilan itu membuat Max Havelaar melaporkan adipati dan menantunya kepada anggota dewan residen Banten dan menginginkan untuk diselidiki lebih lanjut. Alih-alih mendengarkan laporan dari Max, anggota dewan residen Banten menolak dan menawari dia rumah baru yang jauh dari pribumi. Para anggota dewa residen Banten berharap agar Max menghabiskan waktu di sana, daripada bergaul dengan penduduk pribumi. Max yang merasa ditolak dan tidak membuahkan hasil, dia pun mengajukan pengunduran diri dari jabatannya dan disetujui oleh anggota dewan residen Lebak.
Pada bab akhir buku ini, latar berubah kembali yang di mana Sjaalman membongkar rahasianya. Dia menyatakan bahwa yang membuat naskah buku ini bukanlah Stern, melainkan dirinya sendiri. Max Havelaar berkata “Cukuplah, Stern yang baik! Aku, Multatuli, mengambil pena. Kau tidak diperintahkan untuk menulis biografi Havelaar. Aku menciptakanmu. Aku membawamu dari Hamburg. Aku mengajarimu bahasa Belanda yang baik dalam waktu sangat singkat. Aku membuatmu mencium Louise Rosemeijer dari keluarga Rosemeijer yang berdagang gula …. Cukuplah, Stern! Kau boleh pergi”
Sjaalman mengatakan bahwa dia adalah Multatuli. “yang telah banyak menderita”. Diakhir buku ini dia mengucapkan maaf atas bukunya. Dia berkata bahwa tujuan dari buku ini ada dua. Pertama dia ingin memberikan kesaksian kepada “si kecil Max” dan saudara perempuannya lewat tulisan tangan ini. Kedua, dia merasa sangat yakin bawa buku ini akan dibaca oleh para negarawan. Dia akan merasa puas, jika kedua tujuan ini tercapai.
Kelebihan
- Alur cerita dari buku ini yang tidak bisa tebak sehingga pembaca harus membaca sampai akhir dari buku ini.
- Bahasa yang digunakan sudah mengikuti ejaan saat ini, sehingga mudah untuk dipahami.
- Pengemasan cerita dalam buku ini, seperti cerita di dalam cerita, seperti yang awalnya tentang Tuan Droogstoppel yang bertemu Sjaalman, tiba-tiba masuk ke cerita yang ditulis oleh Stern.
- Menceritakan keadaan Hindia Belanda yang sesungguhnya dengan tokoh yang tidak nyata. Sehingga tidak dapat digugat karena merupaka karya bersifat fiksi tokohnya.
Kekurangan
- Dikarenakan alurnya yang tidak mudah ditebak, pembaca harus membacanya dari awal sampai akhir. Jika tidak, pembaca tidak akan mengerti isi dari buku ini.
- Sudut pandang yang banyak terkadang membuat pembaca merasa kesulitan dalam memahami alur dalam cerita ini, sehingga dapat menimbulkan kekeliruan.
Max Havelaar adalah sebuah novel karangan Multatuli. Novel ini lebih cocok dibaca oleh kalangan remaja sampai dewasa karena alur yang tidak mudah ditebak membuat pembaca terkadang keliru, meskipun bahasa yang dikemas sudah sesuai ejaan saat ini. Novel ini dikemas dengan baik dengan nilai moral, sosial, dan budayanya. Dalam novel, kita dapat belajar dari karakter Max Havelaar yang berani memperjuangkan keadilan, meskipun hal itu dapat merugikan dirinya sendiri.
0 Komentar