Novel Bekisar Merah mengisahkan perjuangan hidup Layisah, seorang perempuan Desa Karangsoga yang berketurunan Jepang-Jawa memiliki paras cantik dan pemalu, Ia hidup dalam kemiskinan karena ibunya seorang penyadap nira sebagai mata pencaharian dan bapaknya seorang tentara Jepang yang sudah meninggal. Lasiyah menikah dengan seorang penyadap nira atau pohon kelapa bernama Darsa. Meskipun hidup dalam keterbatasan ekonomi Lasiyah dan Darsa tetap saling mencintai satu sama lain. Namun, suatu ketika Darsa mengkhianati Lasiyah dengan berselingkuh dengan Sipah, mengetahui hal itu Lasiyah pergi dari Desa Karangsoga dan pergi ke Kota Jakarta. Kota Jakarta membuat hidup Lasiyah berubah drastis semenjak bertemu dengan Bu Lanting dan Pak Handarbeni.
Pembukaan
Novel ini ditulis oleh Ahmad Tohari lahir di Banyumas, 13 Juni 1948. Ia melanjutkan pendidikannya di Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Dia menulis novel Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jantera Bianglala (1986), Bekisar Merah (1993), Gadis Pantai (1997), Lingkar Tanah Lingkar Air (1995), Orang-orang Proyek (1996), Juru Kunci (2006), Senja di Jakarta (2012), Cakrawala (2017).
Isi
Lasiyah adalah seorang wanita cantik berdarah Jepang-Jawa dari Desa Karangsoga, yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai penyadap nira. Sejak kecil Lasiyah membantu ibunya yaitu Mbok Wiryaji, bekerja karena ayahnya telah meninggal. Namun, Lasiyah selalu diejek oleh teman-temannya dan menjadi buah bibir masyarakat desa karena mereka mengira bahwa Lasiyah adalah anak haram dari Mbok Wiryaji dan tentara Jepang. Lasiyah menikah dengan Darsa, seorang penyadap nira, dan mereka hidup dengan keterbatasan ekonomi. Setiap hari, Darsa menyadap nira dan Lasiyah mengolahnya menjadi gula untuk dijual kepada Pak Tir, seorang juragan gula.
Suatu hari, Darsa terjatuh dan terluka parah saat menyadap nira. Lasiyah tidak memiliki uang untuk membawa Darsa ke rumah sakit, Mbok Wiryaji meminta saran kepada tetangga bagaimana menangani Darsa selanjutnya, beberapa tetangga menyuruhnya untuk dirawat di rumah saja karena tidak mengalami cedera berat dan beberapa tetangga mengatakan untuk dibawa ke rumah sakit, tetapi Eyang Mus percaya tangan Tuhan sendiri yang mampu menyelamatkan Darsa, namun Mbok Wiryaji berhasil meminjamkan uang dari Pak Tir. Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, dokter menyatakan bahwa Darsa harus dibawa ke rumah sakit yang lebih besar. Lasiyah bingung bagaimana mendapatkan uang untuk pengobatan Darsa dan mempertimbangkan untuk menjual kebun kelapa milik Darsa, namun Eyang Mus tidak setuju karena kebun itu adalah satu-satunya mata pencaharian Darsa. Akhirnya, Lasiyah dan Mbok Wiryaji memutuskan membawa Darsa pulang.
Kondisi Darsa semakin memburuk dan sikapnya berubah menjadi pemarah. Mereka kemudian membawa Darsa ke Bunek, seorang dukun beranak yang terkenal di Desa Karangsoga dan kemungkinan ia bisa mengobati Darsa. Sikap Bunek memang blak-blakan yang membuat Darsa sedikit tersinggung, tetapi hari demi hari Darsa sudah mulai terbiasa dengan omongan Bunek tersebut. Pada suatu hari saat Darsa sedang berobat dengan Bunek, Bunek meminta perjanjian untuk menikahi anaknya yang lumpuh yaitu Sipah sebagai imbalan atas kesembuhan Darsa. Mendengar hal tersebut, Lasiyah sangat kaget dan merasa dikhianati oleh suaminya sendiri dan memutuskan untuk pergi meninggalkan desa. Lasiyah tiba di Jakarta dan dipertemukan dengan Bu Koneng, pemilik warung makan, yang mengizinkannya tinggal sementara di warungnya. Lasiyah kemudian diadopsi oleh Bu Lanting, seseorang yang kaya raya di ibu kota.
Sebagai anak angkat Bu Lanting, Lasiyah hidup dengan kemewahan yang tak pernah didapatkannya sebelumnya. Pak Handarbeni, pria kaya berusia 61 tahun, tertarik pada kecantikan Lasiyah dan ingin menikahinya. Bu Lanting mengatur perjodohan ini agar bisa mendapatkan uang dari Pak Handarbeni. Namun, Lasiyah masih ragu-ragu dan belum siap untuk menikah. Dia menyimpan keraguan dalam hatinya.
Hari pernikahan pun tiba, hari dimana Lasiyah menjadi istri Pak Handarbeni. Pernikahan dilakukan dengan tertutup dan dihadiri oleh sedikit tamu yang khususnya kerabat dekat Pak Handarbeni. Sebenarnya hati Lasiyah sangat rumit, ia menikah dengan orang lain tetapi belum melalukan perceraian dengan Darsa. Saat malam pertama, Lasiyah sangat terkejut ketika Pak Handarbeni mengatakan bahwa ia menikah dengan Lasiyah hanya main-main dan memperbolehkan Lasiyah untuk mencari laki-laki, menurut Pak Handarbeni menikah dengan perempuan cantik hanya untuk meningkat reputasi di mata rekan bisnisnya. Lasiyah tidak bisa berbuat apa-apa, sehingga ia hanya menuruti suaminya itu. Setiap hari Lasiyah hanya di dalam rumah bagaikan hidup di dalam sangkar, Lasiyah sangat suntuk dan meminta Pak Handarbeni untuk mengizinkan pulang kampung. Di Desa Karangsoga ia merenovasi rumah tua miliknya dan bertemu dengan anak dari Sipah dan Darsa. Lasiyah juga banyak menghabiskan waktu dengan Kanjat, tampaknya Kanjat dan Lasiyah sudah saling menyukai tetapi mereka saling mengerti kondisi satu sama lain.
Tokoh dan Penokohan
Lasiyah: Tokoh utama yang memiliki sifat sabar, plin-plan dan setia, karena pada novel Bekisar Merah diceritakan bahwa Lasiyah sangat sabar ketika hidup berkekurangan, Lasiyah tetap menemani Darsa pada saat ia sedang sakit, dan Lasiyah plin-plan karena Lasiyah mengatakan bahwa ia tidak siap menikah karena masih teringat Darsa, tetapi di waktu yang bersamaan ia jatuh cinta dengan Kanjat.
Darsa: Mantan suami Lasiyah yang memiliki sifat tidak setia, Ia menuruti permintaan Bunek untuk menikahi Sipah.
Eyang Mus: Sosok yang religius, karena ketika Lasiyah dan Mbok Wiryaji meminta saran kepada Eyang Mus, ia selalu mengatakan untuk selalu “ikhtiar” dan ingat Tuhan.
Pak Handarbeni: Memiliki sifat semena-mena, karena Ia mengatakan bahwa pernikahan dengan Lasiyah hanya main-main.
Bu Koneng: Memiliki sifat materialistik, karena Bu Koneng rela menjual Lasiyah kepada Pak Handarbeni demi mendapatkan uang, sedangkan dirinya sudah berkecukupan.
Setting Latar
Latar yang digunakan dalam Novel Bekisar Merah adalah Desa Karangsoga karena dalam Novel Bekisar Merah tempat tinggal dan tempat bekerja Lasiyah adalah di Desa Karangsoga dan latar kedua adalah Kota Jakarta, yang terdapat di rumah makan Bu Koneng, tempat tinggal Bu Lanting, dan tempat tinggal Pak Handarbeni
Nilai-Nilai dalam Novel
Nilai Agama: Novel ini memiliki nilai agama, dengan hadirnya tokoh Eyang Mus mengingatkan kita untuk selalu berdoa kepada Tuhan ketika sedang jatuh.
Nilai Pendidikan: Novel ini mengajarkan bahwa tidak ada pemberian yang tulus sesuai perkataan Mbok Wiryaji, seperti halnya Darsa yang sedang berobat dengan Bunek, Bunek meminta untuk menikahi anaknya ketika Darsa sudah sembuh dan saat Lasiyah hidup dengan Bu Lanting dia diberikan apa yang ia mau, tetapi dibalik semua itu Lasiyah harus menikah dengan Pak Handarbeni.
Nilai Moral: Secara tidak langsung novel ini memberi semangat kepada kita untuk bekerja keras, sama seperti Darsa yang tetap bekerja keras agar dapat menghidupi keluarganya meski resiko cedera.
Nilai Sosial: Novel ini juga memberi pandangan tentang kehidupan di desa, yang dimana kepedulian di desa tersebut sangat terasa, salah satunya saat Darsa sedang sakit dan tetangga memberi saran kepada Lasiyah dan Mbok Wiryaji.
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan: Cerita di novel ini seperti nyata, pembaca sangat menikmati karena latar tempat dan suasana sangat jelas sehingga pembaca seolah-olah berada di Desa Karangsoga dengan budaya Jawanya yang kental. Selain itu, Novel Bekisar Merah memiliki nilai kehidupan yang sangat berkenaan dengan kehidupan sehari-hari kita.
Kekurangan: Novel ini menggunakan alur campuran dan banyak menggunakan bahasa Jawa, sehingga membuat pembaca bingung dan akhir cerita pada Novel Bekisar Merah juga masih menggantung.
Penutup
Novel Bekisar Merah mengajarkan kita untuk lebih hati-hati terhadap pemberian orang karena dibalik semua itu pasti orang tersebut meminta sesuatu balik dari diri kita dan segala permasalahan dihidup kita selalu berdoa dan dekat dengan Tuhan, dengan itu Tuhan akan membantu kita keluar dari permasalahan.
0 Komentar