Novel Jepun Negerinya Hiroko berkisah tentang Dini, seorang istri dari diplomat Prancis, Yves Coffin, yang bekerja sebagai Wakil Konsul. Namun, seiring berjalannya waktu semakin terungkap bagaimana sifat asli Yves yang tidak diketahui Dini saat sebelum menikah.

    Novel ini ditulis oleh Nh. Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin), lahir pada tanggal 29 Februari 1936 di Semarang. Ia terkenal sebagai novelis yang kebanyakan karyanya mempergunakan latar negara-negara luar Indonesia. Ia juga menulis novel Namaku Hiroko (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), dan Sekayu (1981).

    Dini adalah seorang perempuan keturunan Jawa. Sebelum menjadi istri seorang diplomat Prancis yaitu bernama Yves, Dini diwajibkan melewati beberapa wawancara yang di masa itu disebut tanya jawab atau interview. Kedutaan Prancis “menyelidiki” siapa Dini, bagaimana asal-usulnya dan apa pendidikannya.

    Pada pertengahan bulan Mei tahun 1960, Dini berangkat ke Jepang menyusul Yves. Yves menyuruh Dini singgah di Hongkong agar bisa berbelanja pakaian untuk digunakan karena bulan Mei di Kobe udara masih dingin dan banyak hujan. Setelah dua malam tinggal di Hongkong, Dini naik Japan Airlines ke Osaka. Akhirnya Dini bertemu dengan Yves setelah tiga bulan hanya berkomunikasi melalui surat dan telepon.

    Pada tanggal 9 Juni di Konsulat Prancis, Yves dan Dini menikah. Hari pertama sebagai istri seorang wakil konsul bangsa Prancis berlalu dengan sangat menyenangkan. Selama tinggal di Negeri Sakura bisa dikatakan sebagai masa penyesuaian Dini hidup berumah tangga. Itu merupakan awal tahun-tahun pernikahan, di masa Yves masih memperlihatkan kelembutan serta kesabarannya terhadap Dini.

    Dua hari setelah pernikahan mereka, Yves memperkenalkan Dini ke daerah Kansai. Selain mengunjungi tempat-tempat modern, mereka juga mengunjungi kuil-kuil yang terkenal maupun yang tidak. Selama dua pekan Dini menikmati honeymoon. Sepulang dari perjalanan pengantin, Dini mengandung.

    Begitu banyak jumlah wanita masuk keluar rumah untuk mencoba menjadi pembantu, sehingga Dini tidak mengingat nama mereka semua. Pada umumnya mereka keluar karena tidak kuat menjadi pegawainya Yves. Suami Dini tidak merasa malu atau keberatan mendapat ketenaran karena suka menghardik atau memarahi pembantu.

    Sangat sering rumah mereka diadakan acara perjamuan makan bersama. Yves sering mengundang para tamu dari negara Prancis atau Jepang, serta temannya untuk menikmati perjamuan makan di rumahnya. Dini mudah akrab kepada orang yang baru dikenal, sehingga dapat memiliki banyak teman di Jepang dari kalangan pejabat-pejabat sampai pengusaha.

    Setahun usai pernikahan mereka, di bulan Februari lahirlah seorang putri sulung bernama Marie-Claire Lintang. Pada saat itu, keluarga mereka telah memiliki pembantu yang cocok dengan Dini bernama Hiroko. Ia adalah seorang perempuan Jepang asli yang telah membantu Dini menyesuaikan diri di negeri itu dan di masa-masa awal hidup Dini berumah tangga. Dini telah berteman akrab dengannya, bahkan Hiroko sering memberikan sesuatu kepada Dini, karena tahu bahwa suaminya sangat perhitungan mengenai keuangan.

    Lintang tumbuh menjadi anak yang ceria dan sangat menawan. Lintang bahkan disenangi oleh para sahabat Dini yang juga seorang istri dari anggota diplomat. Namun suatu hari, Hiroko pamit untuk pergi dari rumah itu karena ucapan Yves saat marah-marah yang melukai Hiroko.

    Semakin lama, kepelitan Yves semakin menjadi-jadi. Yves menuduh Dini terlalu boros dan harga-harga kebutuhan rumah tangga naik hampir seratus persen sejak Dini datang. Urusan hal kecil seperti biaya transportasi nyaris membuat kehilangan pembantu lagi, hingga membuat pembantu itu menangis karena merasa dituduh mencuri dari pengeluaran setiap bulan. Yves bisa menjadi seorang teman yang sangat menyenangkan. Tapi setiap akhir bulan, ketika memeriksa buku pengeluaran belanja rumah tangga, tidak pernah ada kedamaian. Namun, Dini berusaha menyesuaikan diri hidup bersama lelaki yang dinikahi itu. Hanya itulah yang bisa Dini perbuat.

    Dasar sifat Yves sudah mendarah daging. Tetapi Dini diam saja, berdoa setulus dan sekhusyuk mungkin, memohon agar Tuhan selalu melindungi keluarganya. Gejolak beberapa kali perubahan sikap dan perasaan Yves sungguh sangat mengganggu Dini. Sikap tidak pedulinya terhadap Dini sebegitu ada kehadiran orang ketiga di antara mereka, lebih-lebih jika itu seorang wanita. Sifat serba terlambat karena hanya mementingkan kegemarannya atau kepentingan dirinya. Dia dapat bangun sangat pagi mendahului matahari hanya untuk memotret sesuatu, tetapi untuk menghadiri pertemuan penting, menjemput anak sendiri, Yves kurang berusaha menepati waktu. Sedangkan di suatu waktu, Yves menuding Dini sebagai sebab keterlambatannya. Sejak mereka kawin, selalu Dinilah yang menunggu Yves. Kini Yves mengajukan Dini sebagai seorang perempuan pada umumnya, yang biasa terlambat karena kemanjaan terlalu mengambil waktu buat bersolek dan mempercantik diri. Sedangkan Dini selalu berdandan jauh-jauh sebelum waktu yang ditetapkan untuk menghadiri acara apapun.

    Perkawinan mereka sudah berusia satu tahun. Perhitungan yang paling menguasai Dini adalah masalah perasaannya. Dini bukan tipe perempuan yang mau menjajah pria. Tetapi ada waktu-waktu tertentu, kalau suami menunjukkan perhatian kepadanya, Dini sungguh merasa terharu dan tersanjung.

    Jika Lintang tidur, Dini memanfaatkan waktu luangnya untuk mengarang adegan-adegan, dialog atau pelukisan suasana. Dini membentuk bagian-bagian cerita yang di kemudian hari akan disambung-sambung hingga merupakan kekompakan sebuah novel. Sayang sekali Yves tidak membiarkan Dini lama “menganggur”. Karena jika Yves melihat Dini menulis, baginya itu berarti Dini mempunyai waktu luang, berarti tidak mengurusi Lintang dan tidak menyiapkan makanan, sehingga saat itu Yves melontarkan penghinaan pertama yang diucapkan mengenai kegiatan intelektual Dini. Di masa itu Dini sampai pada fase membungkam. Kebanyakan kali omongan suaminya tidak dijawab ataupun ditanggapi, walaupun Dini berbeda pendapat dengan dia.

    Secara fisik dan batiniah, Dini lewati bulan-bulan yang amat sulit itu. Dini merasa malu sendirian karena tiba-tiba sadar menjadi demikian lemah, mengasihani diri sendiri. Dini jelas tidak menyesal kawin dengan Yves Coffin. Yves berhati baik, tetapi memiliki sifat-sifat kontradiktif yang mengejutkan bagi orang yang mengenalnya hanya di luar rumah, hanya sepintas lalu. Yves mempunyai banyak kekurangan, namun dia bukan lelaki yang jahat. Dia hanya menjengkelkan untuk diajak sealur dengan cara hidup yang Dini sukai. Mungkin karena sifat-sifat Dini yang terlalu peka sajalah maka Dini belum juga bisa menerima kebiasaan-kebiasaan suaminya.

    Sebegitu kesibukan menyambut tahun baru usai, mereka berkemas. Masa dinas Yves di Kobe akan segera berakhir. Mereka meninggalkan Jepang dari Osaka, terbang ke Hongkong. Lalu dilanjutkan penerbangan ke Jakarta. Seiring waktu, kosa kata Lintang sudah lumayan. Meskipun mempunyai “kamus” sendiri berisi kata-kata Jepang dan Prancis, namun Dini selalu berbicara kepadanya dalam bahasa Jawa. Perkawinan mereka baru melangkah ke tahun kedua. Tertancap dalam pendidikannya, yaitu memandang semua dalam hidup ini dari sisi baiknya. Harus memanfaatkan dan mensyukuri sedikit pun yang diterima sebagai karunia Sang Pencipta.

    Novel ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami, memiliki isi cerita yang detail dan masing-masing tokoh memiliki karakteristik yang beragam dan menarik, sehingga semua peristiwa di dalam cerita dapat dirasakan oleh pembaca.

    Novel ini dapat dibaca oleh semua kalangan. Cerita perjuangan seorang perempuan Indonesia yang harus hidup di negara asing ini disajikan dengan bagus dan banyak nilai-nilai yang didapat yaitu nilai moral, pendidikan, sosial, dan agama. Novel ini dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami dan terperinci sehingga pembaca dapat merasakan setiap tulisan yang diciptakan oleh Nh. Dini di dalam cerita tersebut.