Judul : Hujan

Penulis : Darwis Tere Liye

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

 

                                                          HUJAN

           Pada suatu ketika ada seorang gadis yang menyukai hujan. Semua kenangan yang dia miliki sebagian besar terjadi pada saat hujan turun. Kenangan manis, pahit, menyenangkan, buruk, semua terjadi karena hujan turun. Hingga pada suatu saat dia ingin melupakan hujan.

           Berawal dari sebuah remaja yang memakai seragam sekolah yang digandeng ibunya menuju stasiun bawah tanah. Waktu menunjukkan bahwa mereka terlambat. Sang Ibu terlihat tergesa-gesa karena mereka bukan hanya terlambat untuk masuk sekolah di hari pertama masuk sekolah, melainkan sang Ibu juga harus ke kantor.

             Gadis remja itu bernama Lail, waktu itu umurnya 13 tahun. Lail hidup di tahun dimana teknologi berkembang sudah sangat cepat dan maju, terlihat dari sang Ibu ketika membeli coklat panas dari mesin minuman hanya menggunakan sebuah gelas kecil yang berfungsi sebagai alat komunikasi ketika ia menghubungi Ayah Lail.

              Jam itu dapat menampilkan layar hologram sehingga sang penelepon dapat bertatap muka secara tidak langsung dengan yang ditelpon. Tepatnya gadis itu hidup di tahun 2050-an, diman jumlah  penduduk berkembang sangat cepat sehingga di beberapa negara mengalami krisis pangan. Pagi itu bayi ke 10 miliar telah lahir, dan disiarkan di acara berita.

         Saat Lail dan Ibunya dalam perjalanan dikereta bawah tanah, terdengar suara bergemuru dan beberapa detik kemudian diikuti dengan gempa bumi yang luar biasa. Ternyata ada gunung berapi purba yang meletus dengan kekuatan yang bahkan lebih mengerikan di bandingkan letusan gunung Krakatau ribuan tahun lalu.

          Gunung berapi yang meletus tersebut mengakibatkan gempa 10 skal richter yang menghancurkan dua benua. Bencana yang luar biasa tersebut tidak hanya memakan korban yang sangat banyak, akan tetapi juga membawa bencana yang berkepanjangan akibat abu vulkanik yang disemburkan ke atmosfer. Iklim berubah di seluruh dunia, suhu turun dan terjadi kelangkaan bahan pangan.

           Kejadian inilah Lail kehilangan Ibu dan Ayahnya.Ibunya tertimbun di dalam tanah bersama penumpang lainnya. Tapi, dalam kejadian ini Lail bertemu dengan seseorang laki-laki yang akan menjadiorang yang sangat penting dalam hidupnya.

            Anak laki-laki itu bernama Esok, anak laki-laki yang cerdas yang menyelamatkan Lail dari lubang tangga darurat kereta bawah tanah. Saat itu Esok masih berumur 15 tahun, dan hujan pun turun di kala itu.

             Saat bencana itu terjadi Esok juga kehilangan angggota keluarganya yakni empat saudara laki-lakinya dan Ibunya selamatnamun kakinya harus diamputasi. Lail dan Esok menjadi teman baik. Pasca kejadian bencana itu Esok sangat menjaga Lail dengan peduli dia menjaga Lail selama di tempat pengungsian berupa stadion. Lail yang sangat merindukan ibunya sampai-sampai dia melarikan diri dari pengungsian untuk pergi ke bekas lubang tangga darurat kereta bawah tanah tempat ibunya tertimbun.

            Semakin hari samakin membaik karena teknologi waktu itu berkembang berkembang sangat maju, sehingga pemulihan pasca bencana juga semakin cepat. Tempat pengungsian di stadion resmi ditutupkarena keadaan sudah mulai normal. Orang-orang yang tidak mempunyai keluarga dipindahkan ke panti social, tetapi Lail dan Esok terpisahkan karena Esok diangkat menjadi anak oleh salah sayu orang kaya di kota mereka.

              Esok melanjutkan sekolahnya di SMA sedangkan Lail sekolah di SMP. Esok belajar dengan keras karena dia mau berterimakasih kepada orang tua angkatnya. Di panti social Lail bertemu teman baru bernama Maryam, Maryam yang menemani hari-hari Lail tanpa kehadiran Esok.

             Salah satu cara melupakan Esok dengan kesibukannya. Lail dan Maryam mencoba mengikuti Organisasi Relawan. Padahal usia mereka baru 16 tahun dan syarat yang ditentukan minimal berumur 18 tahun. Tetapi mereka berhasil lolos, memulai mengikuti pelatihan dan menjalankan tugas-tugas disektor yang membutuhkan bantuan. Karena tidak semua negara pulih dengan cepat,di beberapa negara mengalami krisis iklim yang ekstrem. Waktu berjalan begiru cepat hingga akhirnya Esok masuk di Universitas ternama di Ibu Kota yang membuat pertemuan mereka berdua semakin sulit dan jarang.

        Pertemuan dengan Esok merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Lail. Esok bernama asli Soke Bahtera seorang ilmuan pemegang ratusan hak paten tentang teknologi pada waktu kuliah hanya kamuflase. Selang beberapa tahun Lail juga masuk ke sekolah keperawatan dan berhasil lulus serta mendapatkan lisensi.

 

                             Tamat