Judul Buku : Drupadi

Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penerjemah : -
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2017
Jumlah Halaman : vi+154
Ukuran Buku : 21 x 15 cm
Harga Buku : -
ISBN : 978-602-03-3687-9
Cetakan : -


Tema 
Novel Drupadi berkisah tentang seorang perempuan berparas cantik yang diciptakan dari sekuntum bunga teratai yang sedang merekah, ia dielukan beribu-ribu orang tetapi hanya satu orang yang ia inginkan yang muncul dalam mimpinya dan tidak pernah akan ada yaitu Kresna, tetapi semua perasaannya berubah ketika Arjuna menaklukkan hatinya dan menjadi istri kelima Pandawa Indraprastha. Drupadi dikisahkan sebagai sosok perempuan yang kuat, berpengaruh, dan bertanggung jawab.

Pembukaan
Novel ini ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma lahir di Boston, Amerika Serikat pada 19 Juni 1958. Ia mengenal wayang pertama kali melalui pertunjukan wayang orang Ngesti Pandowo di Alun-alun Utara Yogyakarta dan komik R. A Kosasih pada 1960-an. Cerita wayang tentang Drupadi ini berasal dari Majalah Mingguan Zaman, tempat juga dikisahkannya Aswatama, Karna, Kunti, Trijata, dan Wisanggeni, sepanjang tahun 1983-1984. Kembali menulis cerita wayang Rama-Sinta, yang dimuat bersambung di Koran Tempo tahun 2001; setelah terbit Kitab Omong Kosong tahun 2004 mendapat Khatulistiwa Award 2005.

Isi
      Drupadi adalah dewi dari kerajaan Pancala yang sangat cantik dan mempesona. Pada suatu hari ayah Drupadi yaitu Drupada menyelenggarakan sayembara untuk mencari pasangan bagi putrinya. Drupadi diarak dengan segenap upacara kebesaran yaitu sayembara mencari jodoh untuk Drupadi. Mereka yang mengikuti sayembara harus dari golongan yang tidak lebih rendah derajatnya dari Dewi Drupadi, jelas siapa keluarga dan asal-usulnya, mereka harus mampu merentang busur dan membidik anak panah tepat mengenai seekor burung yang bertengger di atas kepala seorang penari. Satu demi satu ksatria maju ke tengah lapangan alun-alun kerajaan Pancala untuk memenuhi syarat menikah dengan Drupadi. Tidak ada satupun yang berhasil membidik anak panah ke seekor burung, tetapi ada satu ksatria yang belum maju, yaitu Arjuna yang menyamar sebagai Brahmana. Ketika Arjuna membidik semua orang bergidik dan tegang, akhirnya Arjuna berhasil memenangkan sayembara dan Drupadi mulai menyukai Arjuna. Namun, Arjuna menolak menikahi Drupadi dan menyerahkan kewenangannya kepada kakaknya yang bernama Yudhistira, tetapi Yudhistira juga menolak dan memberikan Drupadi kepada saudara Pandawa lainnya. Akhirnya Dewi Kunti, ibu dari Pandawa memutuskan untuk menikahkan Drupadi dengan kelima putranya dan hidup bersama di istana Indraprastha. Tak lama setelah perkawinan Pandawa dan Drupadi berlangsung, mulai muncul rasa iri dan dengki dari Kurawa yaitu Duryudhana yang juga mengikuti sayembara tetapi gagal menaklukkan hati Drupadi. Duryudhana merasa iri kemudian berencana untuk menghancurkan kehidupan Yudhistira dan para Pandawa dengan mengajak mereka bermain judi yang taruhannya bukan uang melainkan negeri Indraprastha. Pandawa kalah dan mengalami kehancuran, kehilangan kehormatan dan kemerdekaan sebagai manusia. Drupadi ikut merasakan kehancuran para suaminya, Kurawa memerintahkan Drupadi untuk datang kepadanya. Tetapi Karena bersikeras untuk tidak hadir, maka Drupadi diseret oleh Dursasana, rambutnya ditarik sampai ke balairung, ia dihinakan oleh puluhan Kurawa di atas meja judi. Namun Drupadi tidak tinggal diam, ia memberikan perlawanan dengan kata-kata, doa, dan mantra hingga menebus semuanya dengan menaklukkan puncak Mahameru. Drupadi dan suami-suaminya melakukan penyucian atas anjuran Kresna dengan mengunjungi tempat-tempat keramat yang berada di sekitar padang Kurusetra. Drupadi akhirnya membawa kemenangan bagi Pandawa dan berakhir dengan kematian karena dirinya tak mampu dengan dinginnya salju yang membekukan tubuhnya saat pendakian. 

Tokoh dan Penokohan
1. Dewi Drupadi: Berani, baik, cerdas, kuat, setia kepada para Pandawa, pantang menyerah saat dihinakan para Kurawa. Bukan hanya kecantikannya yang membuat Drupadi dipuji-puji dan dicintai, ia juga perempuan yang berbudi. 
2. Dewi Kunti(Ibu para Pandawa): Penyayang, baik, lemah lembut. 
3. Drupada(ayah Drupadi): Baik, tegas dalam mengambil keputusan.
4. Yudhistira: Baik, gampang terpengaruh saat dibujuk berjudi oleh Kurawa.
5. Arjuna: Baik, sabar, bijaksana.
6. Kurawa Duryudhana: Pendendam, jahat, memiliki rasa iri dengki.

Setting Latar 
1. Latar tempat yang digunakan adalah Kerajaan Pancala tempat tinggal Drupadi, alun-alun tempat sayembara, balai pertemuan istana Hastina tempat para Kurawa dan Pandawa berjudi, dan Mahameru tempat Drupadi menebus kesalahan Pandawa.
2. Latar waktu yang digunakan didominasi pada malam hari. Cerita ini juga dilahirkan pada zaman Mahabharata. 

Nilai – Nilai dalam Novel Drupadi
1. Nilai Agama: Drupadi yang berdoa kepada Yang Maha Kuasa ketika dihinakan oleh para Kurawa yang ditunjukkan pada kalimat “Namun Drupadi tidak tinggal diam, ia memberikan perlawanan dengan kata-kata, doa, dan mantra” dan saat Drupadi berjalan menuju Mahameru masyarakat mendoakannya supaya selamat sampai tujuan ditunjukkan dengan kalimat “sampai di tepi Sungai Brahmaputra, orang-orang berhenti mengikuti Pandawa, hanya mengiringinya dengan doa-doa. Seperti masih terdengar dengung doa itu oleh Drupadi sekarang, ketika ia melangkahkan kakinya dengan anggun perlahan-lahan. Langkahnya pelan tapi penuh kepastian, menembus kabut, debu, maupun hujan badai yang mengancam”.

2. Nilai Estetika: menggambarkan suasana, tempat, waktu sehingga pembaca dapat membayangkan seolah-olah menyaksikan dan merasakan sendiri.
     Pada saat keramaian penonton di alun-alun Pancala dan tandu tempat sang putri diarak yang ditunjukkan pada kalimat “Sudah tentu tandu tempat sang putri bersemayam adalah pusat segala keindahan. Keempatnya dilapisi tiang murni yang didatangkan dari Magda, diukir oleh seniman-seniman ternama dari Cedi,sedangkan pada tiang-tiang itu bertaburan intan permata yang digali di tambang-tambang Eka cakra, tertata begitu rupa yang dalam kata penyair istana Kerajaan Pancala disebut sebagai indah takterperi”.
     Pada saat perkumpulan Kurawa dan penari di balai pertemuan Istana Hastina, ditunjukkan dengan kalimat “Bunyi hentakan kendang yang berbelit-belitan dengan lengking seruling mengiringi pinggul sang penari yang meliuk-liuk di tengah pentas. Ratusan bunyi-bunyian ditabuh, ditiupkan, dan digesek-gesek dengan gila di balai pertemuan Hastina. Suara tawa orang-orang yang mabuk meledak di sana-sini,udara berbau tuak dan anggur yang berleleran dari mulut para Kurawa. Penari itu berpakaian sangat tipis dan hanya menutupi bagian kecil dari tubuhnya yang putih mulus dah beekilat-kilat karena keringat. “
     Pada saat kematian Drupadi di Mahameru yang ditunjukkan dengan kalimat “Ia terduduk, dan membenam di salju, telungkup di situ. Kepalanya mendongak. Terlihat langit membentang. “ suami-suamiku, teruslah berjalan, aku hanya sampai disini” Drupadi tengkurap tak mampu bergerak. Dingin salju membekukan pipinya, kristal-kristal berkilatan di rambutnya. Matanya hanya menatap daratan, yang begitu putih dan begitu luas, berkilat-kilat dan berkeredapan… "

3. Nilai Moral: Novel ini memiliki nilai moral yaitu menghargai orang tua dan tidak melawan untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain serta menyampaikan gagasan tentang membela kesetaraan perempuan lewat tokoh Drupadi. 

4. Nilai kesejarahan: sejarah pewayangan mengenai puncak Mahameru ditunjukkan pada kalimat “Dalam kitab-kitab disebutkan bahwa puncaknya berasa di dunia lain. Artinya puncak Mahameru adalah puncak bukanlah puncak sembarang gunung, puncak Mahameru adalah puncak yang tidak cukup dicapai dengan tubuh, melainkan dengan jiwa. Hanya jiwa yang bersih akan mampu membawa tubuh ke puncaknya. Sepanjang sejarah pewayangan, sudah tidak terhitung lagi berapa manusia mendaki gunung itu, mempersembahkan jiwanya kepada kemudian, namun tidak pernah bisa dibuktikan apakah pernah ada seorang saja yang mampu mencapainya.”

5. Nilai sosial: Drupadi yang dipuji karena kecantikan dan kebaikannya sangat disayang oleh masyarakat. Ketika Drupadi dan para Pandawa berjalan menuju Mahameru, semua warga dari anak kecil sampai dewasa menangis karena kepergiannya. Ditunjukkan dalam kalimat “Di sepanjang jalan orang-orang menatap kepergiannya dengan berurai air mata, di kiri kanan jalan orang membakar dupa dan kemenyan, terdengar tangis mereka yang sesenggukan tertahan-tahan. Drupadi yang tatapannya menentramkan akan pergi untuk selama-lamanya”. Dan dalam kalimat “Semua orang menangis penuh keharuan. Drupadi memasuki setiap rumah, bicara dengan setiap orang, dan ketika pergi ia meninggalkan bau harum tubuhnya yang takkan pernah hilang”. Nilai sosial yang ditunjukkan adalah kedekatan Drupadi dengan warga negeri Pancala dan Indraprastha. 

Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan 
Ketika membaca buku ini saya tidak merasa bosan karena ceritanya menggambarkan mengenai kisah percintaan Drupadi dan kelima Pandawa yang diceritakan dengan jelas dan runtun. Selain percintaan, terdapat juga nilai moral yang dapat ditiru mengenai pembelaan untuk menegakkan kebenaran dan tanggung jawab khususnya dalam hal kesetaraan perempuan lewat tokoh Drupadi. Dalam buku ini banyak menggunakan gambar yang dapat menjelaskan tentang keadaan yang sebenarnya sehingga pembaca dapat merasakan suasana yang diceritakan.

Kekurangan
Dalam buku ini banyak menggunakan puisi yang bahasanya sulit dipahami dan terdapat bagian cerita dan suasana yang dapat menyinggung pembaca tentang pelecehan terhadap perempuan. 

Penutup
Jadi buku ini mengajarkan bahwa perempuan harus menjaga martabat dan harga diri, laki-laki dan perempuan sama derajatnya. Di dunia bukan hanya soal kita menjadi baik dan buruk, tetapi soal bagaimana kita bersikap kepada kebaikan dan keburukan itu.

Nama : Stefany Agnes Yolanda
Kelas/Nomor : XII OTKP/17