Tema
Novel Sekayu menceritakan tentang kenangan masa kecil Dini mulai dari sekolah dasar hingga ia menginjak bangku sekolah menengah pertama di tahun terakhirnya. Di dalam masa-masa itu banyak hal terjadi dalam hidup Dini, baik dalam masalah keluarga, pertemanan, juga percintaan. Novel Sekayu juga menggambarkan sosok Dini yang menonjolkan keberanian, optimis dalam banyak hal, juga sosok yang berpendirian.
Pembukaan
Novel ini ditulis langsung oleh tokoh utama dalam Novel Sekayu yaitu Nh. Dini dengan nama asli Nurhayati Srihardini yang lahir pada 29 Februari 1936 di Semarang. Beliau menyelesaikan SMA bagian Sastra tahun 1956, mengikuti Kursus Pramugari Darat GIA Jakarta pada 1956, dan mengikuti Kursus B-1 Jurusan Sejarah pada 1957. Pada 1957-1960 Nurhayati Srihardini bekerja di GIA Kemayoran Jakarta.
Isi
Keluarga Dini yang beranggotakan
Ayah, Ibu, Nugroho, Heratih, Maryam, Teguh, dan Dini sendiri adalah keluarga
yang sederhana dengan didikan orang tua yang mengajarkan anak-anaknya untuk
berbudi pekerti baik. Pada usia Dini yang masih terbilang muda, Ayah mengidap
penyakit yang sudah lumayan parah, sehingga tidak lama kemudian ia meninggal
dunia. Dengan anak yang banyak juga ada yang masih kecil, Ibu merasa takut
bahwa tidak akan sanggup untuk mencukupi keluarga nya sehari-hari tanpa adanya
Ayah. Dengan keadaan yang mengharuskan Ibu untuk bekerja, karena Utono suami
dari Heratih sudah bekerja dan mereka memiliki anak, mereka sudah tidak tinggal
di rumah Dini dan yang lainnya. Maryam yang juga sudah kuliah di Gadjah Mada,
tinggal di pendopo dekat Gadjah Mada. Karena banyak kamar kosong, ibu membuka
pendopo untuk orang-orang yang ingin tinggal di rumahnya dan ibu juga membuka
warung sebagai sumber penghasilan.
Memasuki kelas 6, ada pergantian
sekolah karena gedung yang lama terlalu berdesak, Dini bertemu dengan teman
baru. Di kelas 6 ini, Dini juga ikut serta dalam membantu mengajar masyarakat
bersama Pak Puspo yang merupakan teman Ayah dan Pung teman Dini. Namun dari
kegiatan tersebut, Dini merasa hanya laki-laki yang diizinkan untuk belajar,
berbeda dengan perempuan yang hanya diizinkan untuk bekerja di rumah dan tidak
memerlukan pelajaran. Dini merasa hak itu tidak benar dan mengajak para
istri-istri dan perempuan lainnya untuk ikut belajar. Saat liburan tiba, Dini
diajak berlibur oleh Susi dan keluarganya ke Ungaran. Susi adalah teman baru
bagi Dini, ia hidup dari keluarga yang berkecukupan. Mereka memiliki waktu yang
senang saat liburan ke Ungaran. Liburan usai dan mereka kembali ke sekolah. Ada
guru baru bernama Pak Purnomo, beliau mengajar Bahasa Indonesia sekaligus wali
kelas Dini, mereka sempat berdebat mengenai bahasa. Heratih melahirkan anak
keduanya, perekonomian keluarga membaik, Dini mengirim prosa dan diterima oleh
Radio RRI yang sering ia dengarkan. Dari situ Dini mendapat honorarium
pertamanya bersamaan dengan Teguh yang mengikuti jejaknya. Dini semakin
menekuni bakatnya dalam penulisan, ia mengikuti lomba yang diadakan Palang
Merah Indonesia dan memenangkan juara 2, Ibu sangat bangga. Libur telah tiba
lagi dan Dini pergi ke berbagai kota di Jawa bersama saudara dari pihak Ibu.
Selama berlibur bersama, Dini merasa bahwa pernikahan tidak begitu berarti
apabila di dalam pernikahan itu selalu ada pertengkaran, karena hal itulah yang
dilihat Dini selama liburan bersama keluarganya.
Akhir tahun ajaran tiba dan sekolah
Dini mengadakan tamasya ke Parangtritis. Selama di perjalanan ia mencoba
mengobrol dan berkenalan dengan Marso, namun tidak ada perasaan tertarik di
hati Dini, melainkan ia tertarik dengan Dirga, kakak Marso. Tibalah di
Parangtritis dan malam harinya mereka mengadakan api unggun, semua murid
beserta guru sangat bahagia karena kebersamaan yang mereka miliki. Acara api
unggun selesai dan seluruh siswa beserta guru pergi untuk tidur. Dini terbangun
dan ia memilih untuk berjalan ke tanggul, namun Marso mengikutinya. Mereka
akhirnya berbincang dan Dini senang dengan kehadiran Marso, seperti memiliki
adik. Karyawisata selesai dan Dini naik ke kelas 2 SMP, hubungannya dengan
Marso juga semakin dekat. Pada kelas 2 SMP ini, Dini bertemu guru yang
memanggilnya dengan “Dini” yaitu Pak Ramuno. Mulai dari saat itu, Dini
menggunakan “Nh. Dini” di setiap akhir karangannya. Waktu berlalu dan Dini
merindukan Dirga, ternyata Dirga menyukai perempuan lain. Dini marah dan kecewa
namun tidak bisa melakukan apapun. Sampai pada saatnya kota Semarang menjadi
tempat pertandingan olahraga seluruh Sekolah Menengah di Indonesia. Setiap
sekolah harus mengirimkan seratus gadis untuk pertunjukkan saat ajang olahraga
itu dilaksanakan. Dini beserta teman-temannya mulai berlatih, tanpa Dini
ketahui Dirga datang untuk menjemput Marso yang berlatih atletik. Mereka
berbincang, Dirga menceritakan perempuan yang ia sukai meminta tolong kepada
Dini untuk membuatkannya sajak-sajak cinta untuk perempuan yang Dirga sukai,
Dini pun mengabulkan permintaannya. Sajak-sajak itu Dini kirimkan melalui
Marso, Dini merasa puas dengan keadaannya saat ini, walaupun masih ada rasa
yang ia pendam untuk Dirga.
Maryam menerima tawaran untuk
bekerja di Salatiga sebagai guru sehingga perekonomian keluarga terbantu
olehnya dan Nugroho akhirnya kuliah Hukum di Gadjah Mada, ia memang didahului
oleh Maryam. Eka Kapti yang merupakan sanggar Dini akan merayakan ulang tahun,
maka dari itu akan diadakan pentas besar. Tibalah saat lomba Sekolah Menengah
Pertama seluruh Indonesia, acara berjalan lancar. Di acara itu Presiden
Soekarno hadir, ia memberikan pidato yang membuat Dini kagum mendengarnya.
Nugroho adalah anak pertama dan bagi Ibu anak pertama laki-laki punya peranan
yang sangat penting dan dibebani dengan harapan yang tinggi. Dini pergi ke
Yogya untuk mengunjungi Nugroho dan memberikan titipan dari Ibu, namun saat
tiba di pondok bukan Nugroho melainkan perempuan yang menyambutnya. Dini merasa
aneh terlebih ketika ada seorang ibu yang menurutnya adalah ibu dari si
perempuan memandang Dini dengan aneh. Ternyata mereka adalah haji dan keluarga
kaya di sana, mereka berbincang dan pulang setelah menitipkan salam dan titipan
untuk Nugroho.
Dini naik ke kelas 3 SMP dan pindah
ke SMP Tiga berbeda dengan Marso. Maryam mempersiapkan pernikahannya bersama
pasangannya yang kurang disukai Dini. Eka Kapti kembali mengadakan pentas besar
dari sebelumnya. Dini beserta teman-temannya mulai mempersiapkannya. Dini
kembali merasakan perasaan suka, orangnya berasal dari Eka Kapti dan tampil di
lakon yang sama. Namun sekali lagi cintanya tidak terbalas. Pada suatu hari
keluarga haji beserta anaknya yang pondoknya ditinggali Nugroho datang,
ternyata mereka datang untuk melamar Nugroho. Ibu dan Nugroho berbincang Ibu
kecewa dengan sikap Nugroho bahwa ia tidak menyukai perempuan itu dan
menurutnya perempuan itu tidak modern. Saat itu ada malam kesenian, Marso
meminta tolong untuk membuatkan lirik lagu, Dini membantunya dan secara tidak
sadar mencoretkan coretan seperti huruf M dan H. Marso awalnya tidak sadar
hingga waktunya tiba di malam kesenian Yul menarik perhatian Dini. Keesokan
harinya Marso menghampiri Dini namun suasananya beda dari biasanya. Marso
langsung menanyakan kepada Dini maksud coretan di akhir lirik lagunya, ternyata
Yul cemburu dengan Dini. Sejujurnya Dini kesal dan tidak percaya bahwa Marso
akan menyudutkan dirinya dengan pertanyaan konyol yang muncul dari Yul. Ia
kecewa dan merasa akan berjaga jarak dengan Marso.
Tibalah hari pernikahan Maryam, semua berjalan dengan semestinya. Namun Dini pergi karena rumahnya terlalu ramai dipenuhi tamu undangan. Hingga acara selesai, Ibu menghampiri Dini untuk makan, karena dirinya belum makan dari pagi. Tetapi Dini menolaknya karena ia merasa kehilangan. Kehilangan sosok kakak yang selalu bersamanya dan menemaninya di masa remajanya. Akhir-akhir itu Dini merasakan banyak kehilangan.
Tokoh dan
Penokohan
- Dini: Baik, kreatif, optimis,
berpendirian, berani, dewasa, selalu menjunjung kebenaran dan baik kepada
banyak orang terutama yang baik kepadanya.
- Ibu: Baik, tegas, penyayang,
berpendirian, pantang menyerah ketika harus menghidupi keluarganya tanpa
seorang suami.
- Maryam: Pintar, baik, penyayang
selalu menjaga adik perempuannya dan menjadi panutan bagi adiknya.
- Nugroho: Baik, pengecut,
memandang sebelah mata orang di sekitarnya.
- Marso: Baik, pintar, teman yang baik bagi Dini.
Setting
Latar
Latar yang paling sering digunakan adalah kota Semarang dan Kampung Sekayu, karena tempat itu adalah tempat tinggal Dini juga sekolahnya. Latar waktunya adalah masa setelah kemerdekaan.
Kelebihan
dan Kekurangan Buku
Kelebihan
Novel ini menarik dan sebagai pembaca dapat merasa sedang
ada di dalam kisahnya. Novel ini juga memberikan nilai-nilai baik untuk dapat
diterapkan seperti selalu mau berusaha dan mengembangkan bakat dan bersikap
baik kepada banyak orang.
Kekurangan
Pada bagian awal susah untuk dimengerti karena pemilihan kata baku dan jarang digunakan di kehidupan sehari-hari. Namun setelah dibaca lebih jauh akan mudah dimengerti dan dapat mengikuti alurnya.
Penutup
Novel ini menceritakan kisah Dini yang ditinggal ayahnya di
masa kecilnya dan tetap harus menjalankan hari-harinya. Juga menceritakan
dirinya dalam menekuni bakatnya dan mengajarkan kita untuk tetap berusaha di
keadaan apapun, selalu bersikap baik, dan berani.


0 Komentar