Roman Tetralogi Buru mengambil latarbelakang dan cikalbakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakkan nasional mula - mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern. 

Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.

Pembukaan :

Pramoedya Ananta Toer lahir pada 1925 di Blora, Jawa Tengah, Indonesia. Hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara – sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia - manusia bermartabat: 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru (13 Oktober 1965 - Juli 1969, pulau Nusa - kambangan Juli 1969 - 16 Agustus 1969, pulau Buru Agustus 1969 - 12 November 1979, Magelang/Banyumanik November - Desember 1979) tanpa proses pengadilan. Pada tanggal 21 Desember 1979 Pramoedya Ananta Toer mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan negara sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun. Beberapa karyanya lahir dari tempat purba ini, diantaranya Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca).

Penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun menulis. Baginya, menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Dan ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh. Berkali - kali karyanya dilarang dan dibakar.

Dari tangannya yang dingin telah lahir lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta Toer dianugerahi berbagai penghargaan internasional, di antaranya: The PEN Freedom-to-write Award pada 1998, Ramon Magsaysay Award pada 1995, Fukuoka Cultur Grand Price, Jepang pada tahun 2000, tahun 2003 mendapatkan penghargaan The Norwegian Authors Union dan tahun 2004 Pablo Neruda dari Presiden Republik Chile Senor Richardo Lagos Escobar. Sampai akhir hidupnya, ia adalah satu - satunya wakil Indonesia yang namanya berkali - kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.

Isi :

Minke merupakan lelaki muda berasal Indonesia, pada masa itu orang - orang yang mempunyai darah murni Indonesia disebut sebagai pribumi. Minke dapat masuk ke sekolah HBS karena ia merupakan anak dari bupati Surabaya. Namun karena ia merupakan pribumi yang bersekolah di sekolahan Belanda, ia menerima banyak hinaan disana. Suatu hari, salah satu temannya (Robert Suurof) mengajaknya untuk datang menemaninya ke kediaman Mellema untuk bertemu temannya yaitu Robert Mellema dan wanita yang ia sukai yaitu Annelies Mellema. Sesampainya disana yang ia dapatkan hanyalah hinaan dari Robert Mellema dan Robert Suurof. Tak lama kemudian wanita cantik keluar dari pintu kayu dan menyamperi Minke yang sedang sendirian. Annelies ingin menemani Minke yang sedang sendirian itu dan mengajaknya berkeliling rumah nya. Lama menghabiskan waktu bersama dan bermesraan, tiba waktunya untuk makan malam. Annelies, Nyai, Suurof, Robert, dan Minke sedang menikmati makanan mereka dengan kesunyian. Tak lama kemudian sesosok lelaki datang dari pintu masuk dan menghampiri Minke. Itu merupakan Tuan Mellema, pemilik rumah tersebut. Ia berkata “hanya karena kalian menggunakan pakaian Eropa bukan berarti kalian setara dengan kami! Dasar monyet!” mendengar hal itu Nyai langsung mengusir Tuan Mellema, dilanjuti dengan Robert dan Suurof yang meninggalkan tempat itu. Annelies yang sedang menangis dan Nyai yang malu akan kejadian tersebut membuat suasana di ruangan tersebut sunyi dan canggung. Kemudian Nyai meminta Minke untuk pulang.

Beberapa hari sudah berlalu semenjak hari itu, Minke menerima surat dari Nyai yang memintanya untuk tinggal di kediaman Mellema karena Annelies kesepian dan sedih. Minke yang bingung akan hal itu mendatangi sahabatnya yaitu Jean Marais seseorang yang berasal dari Perancis dan tinggal di Indonesia. Minke meminta saran atas apa yang harus ia lakukan namun Jean berkata “Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa di dapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini,” “Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya.” “Tentang diriku, Jean, belum tentu aku mencintai gadis Wonokromo itu. Bagaimana kau tahu kau mencintai ibu May?” tanya Minke. “Barangkali kau tidak atau belum mencintai gadis itu. Bukan aku yang menentukan. Lagi pula tak ada cinta muncul mendadak, karena dia adalah anak kebudayaan, bukan batu dari langit. Setidak - tidaknya bukan aku yang menentukan, yang menjalani sendiri. Kau harus uji dirimu sendiri. Boleh jadi gadis itu suka padamu. Ibunya jelas sayang padamu sejauh sudah kau ceritakan. Sudah sayang pada perkenalan pertama. Aku tak percaya pada guna - guna. Barangkali memang ada, tapi aku tak perlu mempercayainya, karena itu hanya bisa berlaku dalam kehidupan yang masih terlalu sederhana tingkat peradabannya. Apalagi kau sudah bikang, Nyai melakukan segala pekerjaan kantor. Orang begitu tidak akan bermain guna - guna. Dia akan lebih percaya pada kekuatan pribadi. Hanya orang tidak berpribadi bermain sihir, bermain dukun. Nyai itu tahu apa yang diperlukannya. Barangkali dia mengenal kesunyian hidup anaknya”. Setelah mendengar nasihat dari temannya, ia memutuskan untuk datang ke kediaman Mellema dan tinggal disana. Tentunya ia disambut hangat oleh Nyai dan Annelies namun tidak dengan Robert. Kesehariannya hanya menemani Annelies dan bersekolah dan dihina. Hal tersebut kian berlanjut.

Pada suatu malam kediaman Mellema didatangi oleh kepolisian dan membawa Minke pergi tanpa alasan dan sebab, hal tersebut membuat Nyai dan Ann khawatir sehingga di pagi harinya Nyai menyuruh Robert untuk melihat keadaan Minke di Surabaya namun Robert dengan mudahnya meludahi ibunya sendiri dan pergi dari rumah. Di sisi lain, butuh waktu berhari - hari untuk Minke sampai ke Surabaya. Disana ia didatangkan oleh ayahnya (seorang bupati), ia diminta untuk menjadi penerjemah di perjamuan. Disana ia bertemu dengan ibunya, ia segera meminta maaf kepada ibunya karena tidak pernah mengabarinya. Setelah acara perjamuan selesai, Minke meminta izin kembali kepada ayahnya. Dengan berat hati ayahnya mengizinkan karena Minke mempunyai kehidupannya sendiri sekarang.

Beberapa hari setelah kepulangannya Ann dan Minke menikah secara adat Jawa. Setelah itu barulah muncul konflik berat, Tuan Mellema meninggal di Dojo Ah Tjong, ditemukan juga Robert yang sudah berhari - hari hilang berada disana. Sungguh pemandangan yang memalukan bagi mereka. Meninggalnya Tuan Mellema membuat Nyai kehilangan hak asuh anak terhadap Ann dan Robert dikarenakan hubungan Tuan Mellema dan Nyai hanya sebatas Tuan dan gundik. Pernikahan Ann dan Minke tidak dianggap secara hukum karena tidak terdaftar sehingga Ann harus dibawa pergi ke German oleh wali (istri sah Tuan Mellema). Hal itu mengakibatkan harusnya berpisah antara Ann, Minke dan Nyai.

Kelebihan/kekurangan :

Kelebihan = karena memiliki latar belakang ketika masa penjajahan Belanda, pembaca jadi terbayang hal - hal apa saja yang terjadi pada saat itu. Tidak hanya itu, novel ini mempunyai banyak sekali kalimat - kalimat yang bijak dan dapat memotivasi pembaca.

Kekurangan = pada awalnya susah untuk dimengerti kalimat dan kata kata, namun seiring berjalannya waktu akan terbiasa.

Nilai - Nilai : 



Penutup :
Menurut saya novel ini dapat dibaca oleh seluruh kalangan, terlebih bagi mereka yang tertarik dengan kisah sejarah. Novel ini sungguh memiliki pembawaan suasana yang sangat menarik sehingga tidak akan mudah bosan.