Judul : Robohnya Surau Kami
Penulis : A. A. Navis
Penerjemah : -
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 1986
Jumlah Halaman : 147 Halaman
Ukuran Buku : 21 cm
ISBN : 978-979-403-046-2
Cetakan : Cetakan keempat belas
Tema
Novel Robohnya Surau Kami menceritakan tentang orang yang egois dan selalu mementingkan diri sendiri.
Pembukaan
Novel ini ditulis oleh A. A. Navis yang lahir pada 17 November 1924. Beliau pernah menjadi kepala bagian kesenian jawatan kebudayaan provinsi Sumatera Tengah di Bukittinggi, pemimpin redaksi harian semangat di padang dan menjadi ketua yayasan ruang pendidik INS Kayutanam. Karya-karya beliau yang lain adalah Hujan Panas, Kemarau, Di Lintasan Mendung, Dialekita kabau dan masih banyak lagi.
Isi
Kakek adalah seorang penjaga surau, kakek dikenal sebagai pengasah pisau yang mahir dalam bidangnya. Warga setempat sering meminta tolong kepada kakek untuk diasahkan pisaunya, tak jarang kakek hanya memperoleh senyum dan terimakasih atas jasanya. Kini, kakek telah tiada dan surau tersebut kini tidak ada penjaganya. Anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain dan para perempuan yang mencopotin kayunya untuk dijadikan kayu bakar.
Pada suatu hari aku melihat kakek begitu muram, pandangannya yang sayur hingga salamku yang tak dibalasnya. Aku pun bertanya kepada kakek apa yang telah terjadi padanya. Namun, Kakek hanya membalas dengan menyebut Ajo Sidi. Ajo Sidi adalah orang yang sangat suka berbual bahkan Aku sampai senang mendengar bualannya. Dengan berat hati akhirnya Kakek pun mulai bercerita kepadaku. Awalnya Kakek bercerita mengenai masa mudanya yang dihabiskan di surau dengan melakukan pujian kepada Allah serta selalu sembahyang setiap waktu dan membaca kitabnya. Tiba-tiba berlinang air mata dari mata Kakek. Ajo Sidi bercerita kepada kakek mengenai seorang yang dinamainya Haji Saleh yang sedang berada di akhirat. Para malaikat bertugas untuk melihat daftar dosa dan pahala setiap manusia. Haji Saleh pun tersenyum karena ia begitu yakin akan masuk ke surga.
Namun, pada saat giliran Haji Saleh ditanyainya oleh Tuhan pekerjaan yang dilakukannya. Haji Saleh pun menjawabnya dengan “Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masalah aku menyebut-nyebut nama-Mu.” Tiba-tiba ia merasakan hawa panas mengalir ditubuhnya dan ia pun menangis. Kemudian Haji Saleh pun bertemu dengan teman-temannya di neraka. Haji Saleh yang merasa bahwa ia tak seharusnya masuk neraka pun kembali bertanya kepada Tuhan mengapa ia di masukan ke dalam neraka? Tuhan pun menjawab pertanyaan Haji Saleh itu bahwa Tuhan tidak mabuk disembah dan mengatakan bahwa layak lah mereka untuk dimasukan ke neraka. Itulah yang dikatakan Ajo Sidi kepasa Kakek. Keesokan harinya, istriku mengatakan bahwa Kakek telah meninggal dengan bunuh diri. Aku pun langsung menghampiri rumah Ajo Sidi dan ketika aku tiba di kediaman Ajo Sidi, Aku hanya menemui istrinya saja. Ajo Sidi hanya sibuk bekerja tidak memikirkan apa yang telah terjadi dan tidak bertanggung jawab atas apa yang telah dia katakan kepada Kakek.
Tokoh dan Penokohan
Aku : ingin tahu mengenai masalah orang lain atau hal-hal yang belum ia ketahui.
Kakek : Taat beribadah dan mudah di pengaruhi
Ajo Sidi : Mudah untuk mempengaruhi orang dengan omongannya
Haji Saleh : Angkuh, mementingkan diri sendiri dan malas
Setting Latar
Latar tempat yang digunakan di surau, perumahan/perkampungan, dan kota
Kelebihan dan kekurangan
Kelebihan
Novel yang menarik karena mengambil topik permasalahan yang sering terjadi di lingkungan masyarakat dan juga banyak mengandung nilai-nilai baik yang disampaikan secara langsung maupun tidak langsung di dalamnya.
Kekurangan
Penggunaan bahasa yang baku sehingga sulit untuk dimengerti.
Penutup
Jadi, novel ini mengajarkan kita agar tidak bermalas-malasan dan sebagai makhluk sosial kita juga harus membantu sesama kita. Novel ini juga mengajarkan agar kita tidak boleh sombong atas apa yang telah kita peroleh di dunia dan juga kita tidak boleh mudah terpengaruh dengan omongan orang lain.

0 Komentar