Resensi Novel


Judul Buku : Gadis Kretek

Penulis         : Ratih Kumala

Penerjemah : -

Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2023

Jumlah Halaman : 288 halaman

Ukuran Buku  : 20 cm

Harga Buku : Rp 75.000,00

ISBN : 978-979-22-8141-5

Cetakan         : Kesebelas sampul edisi series Netflix




    Novel karya Ratih Kumala yang berjudul Gadis Kretek berhasil diterjemahkan kedalam tiga bahasa yaitu Inggris, Jerman, dan juga Mesir. Bahkan, Novel Gadis Kretek ini berhasil masuk penghargaan sepuluh besar Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2012.


    Novel Gadis Kretek mengusung tema sejarah perkembangan industri rokok kretek di Indonesia yang bermula dari waktu penjajahan Belanda yang perlahan digantikan oleh Jepang hingga pada sejarah pengkhianatan terbesar yang ada dalam sejarah Indonesia, PKI atau Partai Komunis Indonesia dianggap bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.



Ratih Kumala
    
    Sebelum membaca novel ini, alangkah lebih baiknya jika kita mengenal lebih dalam penulis di dalamnya. Novel ini ditulis oleh Ratih Kumala yang lahir di Jakarta, 24 Oktober 1967. Ia merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret, Surakarta dan mengenyam pendidikan di Fakultas Sastra Inggris. Ia menulis sejak tahun 2002, novel pertamanya, Tabula Rasa (2004) Diikuti novel Gadis Kretek (2012) yang mendapatkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa hingga diadaptasi menjadi series Netflix yang berjudul Gadis Kretek (2023), dan Larutan Senja (2006) Kronik Betawi (2008), Bastian dan Jamur Ajaib (2014), Wesel Pos (2018).


Ringkasan

Romo sedang sekarat terus mengigau dan menyebut nama "Jeng Yah." Nama itu membuat Ibu yang selama ini terlihat tenang dan baik tiba-tiba menunjukkan sisi cemburu buta, mengejutkan Lebas, Mas Karim, dan Mas Tegar. Dalam tiga puluh tujuh tahun pernikahan, tidak pernah terungkap adanya orang ketiga di antara mereka. Bahkan bisa dianggap sebagai contoh rumah tangga yang baik. Namun, sekarang muncul kecurigaan bahwa ada sejarah tersembunyi yang melibatkan seseorang bernama Jeng Yah. Romo memang menderita stroke selama tiga tahun terakhir, berhasil pulih sebagian tetapi kesehatannya kembali menurun belakangan ini. Ketika kondisinya mulai memburuk, Romo mulai menyebut Jeng Yah dan tampaknya ingin bertemu dengannya. Lebas bersama kedua masnya berencana menanyakan hal ini kepada Ibu mereka. Namun, Ibu mereka terlihat sangat marah dan cemburu saat anak-anaknya membicarakan Jeng Yah. Mereka bingung dan takut untuk menyinggung perasaan Ibu. Saat Lebas bertanya kepada Romo, Romo tidak ingat pernah menyebutkan nama Jeng Yah, Romo dengan ingatannya yang tidak kuat lagi memberitahu bahwa mereka berdua terakhir bertemu di Kudus Lebas melaporkan ke Mas Karim dan Mas Tegar bahwa Jeng Yah mungkin berada di Kudus. Mas Karim menunjuk Lebas untuk pergi. Lebas, dengan berat hati, setuju untuk pergi ke Kudus. Lebas juga ingin ke Cirebon untuk pekerjaan filmnya. Lebas berpamitan pada Ibu dan masuk mobil. Sebelum berangkat, Lebas ingin perjalanannya tidak hanya untuk mencari Jeng Yah tetapi juga mengunjungi Cirebon untuk urusan filmnya. Tibalah Lebas di Cirebon, Lebas mengunjungi Erik, teman lama kuliahnya, dan berhasil membujuknya untuk bergabung dalam proyek filmnya. Setelah pertemuan itu, Lebas melanjutkan perjalanannya ke Kudus bersama Tegar, diharapkan dapat membuka lembaran masa lalu yang selama ini terkubur. 

Sesampainya di Kudus, mereka menuju pabrik Djagad Raja. Bertemu dengan Mbok Marem, Aku dan Mas Tegar ragu namun sepakat bahwa Mbok Marem bisa menjadi sumber cerita tentang masa lalu, khususnya Jeng Yah. Mereka bertemu dengan Mbok Marem, perempuan tua di pabrik Djagad Raja, yang terkejut mendengar nama Jeng Yah. Mbok Marem menjelaskan bahwa Jeng Yah adalah pemilik Kretek Gadis, sebuah merek kretek terkenal. Kretek Gadis dulunya lebih dulu ada daripada Kretek Djagad Raja. Ia menceritakan bahwa dulu ada hubungan cinta antara pemilik Kretek Gadis (Jeng Yah) dan Pak Raja, puluhan tahun lalu. Mbok Marem meminta mereka untuk merahasiakan ceritanya dan menyarankan mereka mencari Jeng Yah di Kota M, bukan di Kudus. Aku dan Mas Tegar sepakat untuk pergi ke Kota M, tempat kelahiran Mbah Kakung mereka, Soedjagad, dalam mencari tahu lebih lanjut tentang Jeng Yah. Mereka memutuskan untuk berkunjung ke rumah masa kecil mereka di wilayah pabrik sebelum pergi ke Kota M. Mas Tegar juga meminta Mas Karim ikut dalam perjalanan ke Kota M.

Kota M masih sama seperti yang diingat, Lebas, Mas Karim, dan Mas Tegar mengenang kenangan masa kecil di kota itu, termasuk rumah Mbah Djagad. Saat tiba di rumah tersebut, mereka menemui pintu yang tertutup rapat. Setelah mengetuk-ngetuk, mereka menyadari bahwa rumah ini sepi dan mencoba menghubungi penjaga rumah, Paidi. Setelah beberapa saat, Paidi muncul dengan sikap hormat dan meminta maaf karena telah membuat mereka menunggu. Mereka bertiga masuk ke rumah Eyang Kakungnya dan langsung bertanya mengenai Gadis Kretek ke Paidi, sayangnya Paidi tidak mengetahui sama sekali mengenai Gadis Kretek. Lebas dan Mas Karim melanjutkan pencarian kemudian menghentikan mobil di sebuah warung di pinggir jalan. Mereka berbasa-basi dengan pemilik warung yang ternyata tahu tempat produksi Kretek Gadis. Meskipun awalnya hanya ingin membeli sebotol Aqua, mereka akhirnya mengetahui bahwa pabrik Kretek Gadis berada di dekat sana. Pemilik warung memberikan petunjuk untuk menuju pabrik tersebut, dan mereka menjadi antusias untuk mengunjunginya. setelah mereka tiba di rumah yang diduga sebagai tempat produksi Kretek Gadis, mereka bertemu dengan adiknya Jeng Yah yang bernama Rukayah. Tidak ada Jeng Yah karena Jeng Yah telah meninggal ketika melahirkan. Lalu Rukayah mulai menceritakan kisah yang mengawali ini semua. 

Pada zaman penjajahan Jepang, Idroes Moeria menjalani persaingan bisnis yang sengit dengan sahabatnya sendiri, Soedjagad. Keduanya memiliki kretek masing-masing, yaitu Idroes Moeria dengan Kretek Merdeka dan Soedjagad dengan Kretek Proklamasi. Namun, yang membuat persaingan semakin menarik adalah ketika keduanya terlibat dalam perjuangan merebut hati Roemaisa. Salah satu keunikan bisnis kretek Idroes adalah keterlibatan putrinya, Jeng Yah, dalam proses melinting rokok. Dasiyah, atau Jeng Yah, dengan cermat melinting kreteknya sendiri, menciptakan kretek istimewa yang dikenal sebagai Kretek Gadis. Kelezatan dan keunikannya membuat kretek ini sangat dicari, terutama karena dibuat dalam jumlah terbatas. Namun, kehadiran seorang lelaki bernama Soeraja mengubah dinamika di dalam pabrik kretek. Soeraja, awalnya dianggap hanya hidup berkat belas kasihan Idroes Moeria dan cinta Jeng Yah, memiliki ambisi besar. Ia ingin mendirikan bisnis kreteknya sendiri dan mulai menjalin kerjasama dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kisah tragis dimulai ketika Mas Raja, seorang pemuda yang terlibat dalam pembuatan kretek Cap Arit Merah yang dikaitkan dengan PKI, menjadi target penangkapan. Meskipun sebenarnya tidak terlibat dalam politik, namun keterlibatannya dalam kretek membuatnya terjerat. Keluarga Idroes Moeria dan Jeng Yah juga terkena dampaknya. Idroes Moeria dan Jeng Yah ditangkap karena dianggap terkait dengan Kretek Merdeka! yang disalah artikan sebagai terkait dengan PKI. Setelah Mas Raja menyelamatkan diri, keluarga mereka hidup dalam ketidakpastian, berusaha untuk tidak lebih terlibat dengan pemerintahan yang mencari keterlibatan PKI. Meskipun akhirnya Jeng Yah dan Bapak mereka dibebaskan, mereka memutuskan untuk sementara waktu tidak melanjutkan produksi kretek. Kehidupan mereka tetap dalam ketidakpastian, terutama setelah Jeng Yah menerima surat dari Kudus yang memberitahu bahwa Mas Raja selamat. Namun, kabar dari Mas Raja membawa kekecewaan bagi Jeng Yah. Mas Raja harus memutuskan hubungan dengan Jeng Yah karena telah jatuh cinta pada Purwanti, putri sulung Pak Djagad. Awalnya bahagia, Jeng Yah kemudian menangis saat membaca surat tersebut, mengakhiri kisah tragis mereka dengan pahitnya cinta yang hilang. Mereka saling pandang, kecemasan bergantung di wajah mereka. Secepatnya mereka menuju ke Yogyakarta, dan mengambil penerbangan paling awal yang bisa mereka dapat menuju Jakarta. 

Romo sekarat. Di penghujung hidupnya, ia masih mengigaukan tentang Jeng Yah. Anak-anaknya, yang sebelumnya tidak tahu, kini mengetahui bahwa Jeng Yah telah meninggal. Kemungkinan, perempuan itu muncul beberapa hari terakhir seolah menjadi hantu dari rasa bersalah. Masuk ke dalam kamar, mereka melihat Romo sekarat. Saat Romo menghembuskan napas terakhirnya, Ibu merasa campuran cemburu, lega, dan mungkin kesal karena sekarang Romo dapat bertemu dengan Jeng Yah. Kematian Romo menjadi berita besar. Prosesi pemakaman berlangsung cepat, dan Mas Tegar menjadi juru bicara keluarga serta pemimpin perusahaan. Karena namanya terhubung erat dengan kerajaan Kretek Djagad Raja. Pada hari berikutnya, Lebas, yang terlibat dalam produksi kretek, menemukan sesuatu yang mengguncangkan. Sambil merenung di tengah kesibukan belasungkawa, ia menemukan sebatang Kretek Gadis memiliki rasa yang sama dengan Kretek Djagad Raja. Ini memicu pengungkapan bahwa Romo pernah bekerja untuk Kretek Gadis dan mungkin membocorkan rahasia formula kretek tersebut kepada Djagad Raja. Lebas, bersama Mas Tegar dan Mas Karim, menyimpulkan bahwa Romo mungkin tahu formula saus Kretek Gadis dan mengaplikasikannya ke Kretek Djagad Raja. Ini membuat Kretek Djagad Raja menjadi barang curian. Mereka juga menyadari bahwa Jeng Yah, pacar lama Romo, mungkin mengetahui hal ini. Kematian Romo menjadi semakin kompleks dengan rahasia yang terkuak. Lebas kemudian pergi ke Magelang untuk bertemu dengan Jeng Yah. Di Magelang, dia bertemu dengan Rukayah dan memberitahunya tentang penemuan mereka. Mas Tegar mengirim surat maaf resmi dan penawaran untuk membeli formula saus Kretek Gadis serta aset perusahaan. Mereka juga menawarkan uang sebagai ganti rugi. Rukayah kaget, namun setelah mempertimbangkan, dia setuju untuk melepaskan Kretek Gadis. Dia menerima cek sebagai pembayaran. Lebas kemudian menawarkan sebatang Kretek Gadis pada Rukayah.


Setting Latar 

Latar yang paling sering muncul dalam novel Gadis Kretek melibatkan Kota M, Kudus, dan Jakarta. Kota M menjadi tempat kelahiran Idroes Moeria dan juga menjadi titik awal dari segala konflik yang dimulai. Waktu berlatar pada periode transisi dari penjajah Belanda yang digantikan oleh penjajah dari Jepang.


Kelebihan 

    Kisah dalam novel ini menggambarkan evolusi industri kretek di Indonesia sepanjang berbagai periode dengan cara yang menarik dan rapi. Di samping itu, pesan tersirat dari novel ini mengingatkan bahwa orang yang paling kita percayai pun bisa menjadi musuh terbesar dalam hidup kita.


Kekurangan

    Novel ini memanfaatkan alur maju mundur yang sengaja dirancang untuk menantang pemahaman pembaca.


Penutup

    Novel ini memberikan pelajaran tentang pentingnya dedikasi dan ketekunan dalam bekerja, serta mengingatkan kita untuk tidak sepenuhnya bergantung pada orang lain. Nilai-nilai ini tercermin melalui karakter-karakter utama seperti Idroes Moeria, Roemaisa, dan Jeng Yah, yang diilustrasikan sebagai individu yang gigih, penuh semangat, dan tidak mudah menyerah.