Judul buku : Jalan Tak Ada Ujung
Penulis : Mochtar Lubis
Penerjemah : -
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tahun Terbit : 2016
Jumlah Halaman : VI + 166 halaman
Ukuran Buku : 11 x 17 cm
Harga Buku : -
ISBN : 978-602-424-694-5
Cetakan : Cetakan ketujuh
Tema
Novel sejarah jalan tak ada ujung mengisahkan tentang perjuangan dan semangat pemuda Indonesia untuk melakukan aksi pemberontakan kepada serdadu-serdadu yang menjajah Indonesia
Pembukaan
Jalan Tak Ada Ujung merupakan novel karya Mochtar Lubis yang terbit pada tahun 2016. Sebelum menjadi penulis, Mochtar Lubis juga dulunya bekerja sebagai guru. Mochtar Lubis mengajarkan murid-muridnya semangat nasionalisme, seperti menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera merah putih. Karya-karya lain dari Mochtar Lubis adalah Tidak Ada Esok (1950), Senja di Jakarta (1963), Harimau! Harimau! (1975), Maut Dan Cinta (1977), dan karya-karya lainnya.
Isi
Cerita Jalan Tak Ada Ujung dimulai dengan Isa yang bekerja sebagai guru sedang dalam perjalanan menuju sekolahnya yang berada di Tanah Abang. Ketika Ia berada di Gang Jaksa, Ia mendengar suara tembakan. Selintas masuk ke dalam pikirannya rasa was-was tentang keselamatan istri dan anaknya. Isa terpaksa berlari dan bersembunyi di sebuah rumah orang yang tidak dikenalnya. Tetapi orang-orang di rumah tersebut sangat baik dan mempersilahkan Ia masuk untuk bersembunyi, tiba-tiba pintu rumah tersebut ditendang dari luar, dan ternyata serdadu India masuk dan menggeledah tuan rumah, istrinya, dan Isa. Serdadu-serdadu itu kemudian keluar dari pintu belakang, mereka melihat serdadu-serdadu itu pergi memakai truk menghilang ke jurusan Laan Holle, Isa yang merasa sudah aman tak lupa mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah dan istrinya, Ia kemudian pergi melanjutkan perjalanannya menuju sekolah.
Dalam perjalanannya menuju sekolah Ia menemukan seorang gadis Tionghoa sedang mengerang kesakitan akibat luka tembakan, dengan cepat Ia bersama orang yang berada di tempat itu langsung membantu wanita itu dan menghubungi PMI. Sungguh banyak masalah sepanjang jalan Isa menuju sekolah, namun banyak hal yang Ia temukan sepanjang perjalanan tersebut, seperti pemuda-pemudi Indonesia yang masih muda umurnya, namun memiliki semangat dan kebaikan dalam hatinya untuk saling membantu satu sama lain ketika sedang berada dalam masalah. Ketika gadis Tionghoa sudah ditangani oleh gadis-gadis PMI, Ia melihat sekitar dan melanjutkan perjalanannya menuju sekolah.
Sesampainya Ia di sekolah, Ia melihat anak-anak sekolah yang sedikit dan guru-guru lainnya yang bersiap untuk pulang. Guru-guru yang bersiap pulang disebabkan karena adanya pertempuran dan sedikitnya murid yang hadir. Pikiran Guru Isa kacau balau, reaksi yang telat akan kejadian sebelumnya dan rasa takut akan istri dan anaknya yang berada di rumah menghantui dirinya.
Suatu hari di bulan November Guru Isa bertemu dengan Hazil, seseorang yang mahir dalam bermain biola, Hazil adalah pemuda pemberani yang sering kali mencoba memberontak untuk ikut andil dalam pemberontakan melawan serdadu-serdadu dan sangat ingin meraih kemerdekaan. Guru Isa dipanggil dalam pertemuan untuk merencanakan aksi-aksi dan rencana pemberontakkan, namun dalam pertemuan itu Hazil yang berbicara paling banyak dan memberikan rencana-rencana seperti cara mencari senjata. Guru Isa sebenarnya merasa enggan untuk andil dalam organisasi tersebut, Ia merasa takut namun karena adanya desakan yang datang dari segala pihak, Ia tidak bisa menolak dan akhirnya ikut dalam organisasi tersebut. Semenjak itu, Hazil sering berkunjung ke rumah Guru Isa untuk membicarakan pemberontakkan.
Dalam perjalanannya melakukan rencana pemberontakan Guru Isa bertemu Rakhmat yang dimana menjadi salah satu seorang pejuang kemerdekaan, Hazil telah kenal dengan Rakhmat dan mereka menjadi rekan untuk melakukan tugasnya dalam organisasi rahasia ini. Suatu hari mereka mendapatkan tugas untuk melakukan aksi pengeboman di bioskop, Hazil dan Rakhmat membawa granat tangan di celananya sedangkan Guru Isa hanya bertugas untuk melihat apakah mereka berdua berhasil, mati ditembak, atau ditangkap. Tibalah saat dimana kedua bom diledakkan, perasaan Guru Isa tercampur aduk dan merasa menyesal telah ikut dalam masalah ini. Setelah terjadi pengeboman Guru Isa menjalankan tugasnya dan berlari pulang, tiba-tiba Ia dipanggil oleh Rakhmat dan Hazil. Guru Isa menceritakan bahwa 2 tentara tertapar dan dibawa dengan ambulans.
Beberapa minggu kemudian Guru Isa melihat surat kabar dan berita dimana polisi menangkap pelempar granat. Guru Isa yang melihat berita tersebut langsung kaget dan bertanya pada dirinya sendiri siapakah yang tertangkap, Hazil ataukah Rakhmat. Tiga hari kemudian datang seorang polisi dan dua orang lainnya. Mereka mencari Guru Isa untuk dibawa ke kantor. Sesampainya di kantor polisi, Ia disiksa oleh seorang polisi militer dan dipaksa untuk mengaku, namun Guru Isa tetap terdiam dan tidak mau mengaku. Kemudian Ia bertemu dengan Hazil dan Hazil berkata pada Guru Isa untuk mengaku. Seiring berjalan penyiksaan yang terjadi pada Hazil dan Guru Isa, terdapat banyak perubahan pada diri mereka, Guru Isa yang sudah menguasai rasa takutnya dan telah berdamai dengan rasa takut. Sedangkan Hazil yang semakin lama wajahnya hancur begitupun juga hatinya, Hazil yang dulu pemberani, kini dipenuhi oleh rasa takut.
Tokoh dan Penokohan
Guru Isa: Penakut, lemah lembut, penuh kasih sayang, dan sabar
Fatimah: Perhatian, baik hati, dan penyayang
Hazil: Pemberani, keras kepala, dan pengkhianat
Rakhmat: Pemberani
Polisi Militer: Tegas dan patuh peraturan
Mr. Kamaruddin: Pemarah dan penyayang
Salim: Penakut
Setting Latar
Latar waktu pada novel Jalan Tak Ada Ujung adalah beberapa saat setelah kemerdekaan yaitu pada 1946. Latar tempat yang paling sering digunakan di novel ini adalah di rumah Guru Isa, sekolah, dan penjara
Penutup
Jalan Tak Ada Ujung mengisahkan tentang perjuangan pemuda-pemuda bangsa Indonesia dalam suatu organisasi yang ingin memberontak melawan serdadu. Novel ini juga menjelaskan makna sebenarnya dari ketakutan dan bagaimana cara kita untuk menguasai ketakutan dalam diri kita. Pembawaan karakter dan alur dalam cerita ini juga sangat baik dan terasa nyata. Dari novel ini kita diajarkan untuk setia kepada teman dan keluar dari zona nyaman untuk menaklukan kelemahan dalam diri.


0 Komentar