Tema

        Novel Keberangkatan menceritakan mengenai perjalanan kisah cinta seorang gadis Indonesia keturunan Belanda bernama Elisabet Frissart. Keluarga Elisa memutuskan untuk pergi meninggalkan Indonesia untuk pergi ke Belanda. Namun, tidak sekali pun terlintas di pikiran Elisa untuk pergi mengikuti keluarganya. Elisa sudah terbiasa hidup mandiri dan bergaul dengan orang Indonesia asli. Elisa menjalin hubungan kasih dengan pemuda Jawa bernama Sukoharjito. Sampai suatu ketika, hubungan percintaan Elisa dengan Sukoharjito kandas. Semenjak itu, kehidupan Elisa menjadi berubah.


Pembukaan

        Novel ini ditulis oleh Nurhayati Sri Hardini atau biasa dikenal sebagai Nh. Dini, lahir di Semarang pada 29 Februari 1936. Dini merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Dini mulai tertarik dengan menulis sejak kelas tiga SD, menurutnya menulis adalah cara untuk melampiaskan perasaan hati. Selain novel ini, Dini juga menulis novel seperti Pada Sebuah Kapal (1972), Namaku Hiroko (1977), Hati yang Damai (1961), dan masih banyak lagi.


Isi

        Elisabet Frissart adalah seorang gadis Indonesia keturunan Belanda. Ia bekerja sebagai pramugari di Garuda Indonesia. Terdapat banyak misteri yang tidak Elisa ketahui mengenai keluarganya sendiri. Hubungan Elisa dengan keluarganya sangat tidak baik, terutama Ibunya. Ibunya sering memukul anaknya ketika marah dan sangat gila harta. Sejak umur 17 tahun, Elisa sudah hidup mandiri terpisah dengan keluarganya. Ia memiliki sahabat bernama Lansih. Di tahun-tahun setelah kemerdekaan, terjadi diskriminasi pada orang-orang berdarah campuran. Suatu saat, keluarga Elisa memutuskan akan pergi ke Belanda. Tidak sekali pun Elisa terpikir untuk meninggalkan tanah air Indonesia. Elisa lebih senang dengan suasana dan pergaulan di Indonesia. Suatu hari Lansih yang juga merupakan pegawai Garuda memperkenalkan Elisa dengan seorang pemuda bernama Sukoharjito. Elisa jatuh cinta terhadap Sukoharjito. Suatu hari, Elisa diajak untuk pergi ke tempat asal Sukoharjito di Solo dan diperkenalkan dengan keluarga besarnya, ia diterima dengan baik. Walaupun Sukoharjito adalah kekasihnya, pada waktu-waktu bercumbu Elisa tetap menempatkan keperawanan di atas segalanya sampai waktunya telah tiba.
        Elisa berkenalan dengan seseorang yang bernama Rama Beick. Secara tidak sengaja beberapa misteri mengenai masa kecil Elisa semakin jelas setelah berbicara dengan Rama Beick. Elisa akhirnya memberanikan diri bertanya mengenai masa lalu keluarganya kepada kakaknya. Dari pertemuan itu Elisa akhirnya mengetahui bagaimana masa lalu keluarganya yang selama ini disembunyikan. Sebelum Elisa lahir, Ayah Elisa membawa pulang seorang anak berumur sekitar belasan tahun yang bernama Talib ke rumahnya di Surabaya. Ia berbakat dalam menggambar, bukan lagi gambaran biasa namun lukisan yang indah dan bernilai. Banyak teman-teman Ayah Elisa berdatangan untuk mengagumi lukisan Talib yang salah satunya adalah Rama Beick. Pergaulan Ibu Elisa sangatlah bebas. Terkadang di beberapa malam ketika tamu-tamu datang, banyak diantara mereka yang keluar masuk kamar Ibu Elisa dengan leluasa. Setelah itu Elisa lahir. Sulit untuk memastikan siapakah yang menjadi Ayah kandung dari Elisa karena bebasnya pergaulan Ibu Elisa. Suatu hari Ayah Elisa meninggal dunia. Semenjak itu kabar Talib tidak terdengar lagi. Ibu Elisa menjual rumahnya di Surabaya lalu menikah dengan adik dari Ayah Elisa dan pindah ke Jakarta. Elisa mencari tahu mengenai keberadaan Talib sampai akhirnya mengetahui bahwa Talib sedang sakit yang membuat badannya menjadi lumpuh. Talib tidak mau berobat ke rumah sakit. Elisa mengunjungi Talib yang berada di Surabaya. Kedatangannya disambut dengan tidak baik oleh Talib. Mereka berbincang sampai akhirnya Talib tergerak hatinya untuk menjalani pengobatan di rumah sakit.
        Hubungan Elisa dengan Sukoharjito sudah berlangsung selama satu tahun. Alih-alih menunjukkan tanda keseriusan hubungan, Sukoharjito justru semakin menjauh dari Elisa. Namun, Elisa tetap percaya suatu hari Sukoharjito akan menikahinya. Sampai suatu ketika, Elisa mendapat kabar bahwa Sukoharjito akan segera kawin dengan wanita lain karena wanita tersebut dihamilinya. Setelah itu, Elisa sangat sedih dan selalu menyendiri selama beberapa bulan. Karena kekecewaan Elisa dengan Sukoharjito, Elisa secara diam-diam mencatatkan nama ke Perwakilan Belanda untuk mendapatkan visa dan karcis pesawat terbang keluar dari Indonesia. Lansih memberitahu betapa beruntungnya Elisa bahwa ia masih perawan. Lalu Lansih berkata bahwa perkawinan bukanlah satu-satunya tujuan dalam hidup seorang perempuan. Menurut Lansih, masing-masing orang wajib mencari tujuan hidup yang sesuai dengan dirinya. Oleh karena itu, cerita manusia tidak hanya berakhir pada perkawinan. Lansih memaksa Elisa untuk bergaul dengan teman-temannya di luar dan tidak berdiam diri saja di rumah. Perkataan Lansih itu membuat Elisa tergerak hatinya. Saat itu Talib sudah sehat, ia sudah bisa berjalan lagi. Suatu hari Gail mendatangi rumah Elisa, lalu mengajaknya keluar. Saat itulah Elisa mulai merasakan senang dan tawa setelah beberapa bulan bersedih.
        Di suatu malam, Elisa bekerja menjadi pramugari di malam Natal. Pesawat yang dinaiki Elisa mengalami kecelakaan. Elisa selamat dari kecelakaan pesawat. Elisa berpikir bahwa tangan Tuhan telah menyelamatkannya dari kematian. Akhirnya tiba saat Elisa memberitahu kepada Lansih, Talib, dan Gail mengenai kepergiannya ke Belanda. Di hari keberangkatan, seorang pramugari memberikan sebuah kembang dengan sampul yang terkait di tangkai bunganya. Sampai di tempat duduk pesawat, Elisa membuka sampul tersebut yang berisi surat dan uang seratus dolar dari Gail. Dengan hati yang sedih tetapi tenang, Elisa meninggalkan tanah air Indonesia.


Tokoh dan Penokohan
  1. Elisabet Frissart: Naif karena terlalu percaya ia akan dinikahi oleh Sukoharjito, mandiri karena sejak umur 17 tahun ia sudah hidup terpisah dengan orang tuanya, penyabar, dan mudah jatuh cinta.
  2. Lansih: Berpikiran terbuka dan peduli terhadap temannya yang sedang bersedih.
  3. Sukoharjito: Pengecut karena tidak berani jujur kepada kekasihnya dan tidak setia karena menjalin hubungan dengan dua wanita sekaligus secara diam-diam.
  4. Gail: Mudah jatuh cinta dan penyayang terhadap kekasihnya.
  5. Ibu Elisa: Tidak menyayangi anaknya, pemarah, gila harta, dan ringan tangan karena ia suka memukul anaknya ketika marah.

Setting Latar

        Latar yang paling sering digunakan di dalam novel ini adalah di Jakarta sebagai tempat tinggal dan bekerja para tokoh.


Nilai-nilai dalam Novel
  1. Nilai agama: Percaya kepada Tuhan yang bisa menyelamatkan kita dari segala bencana di hidup kita.
  2. Nilai moral: Seorang wanita harus tetap menjaga keperawanannya sampai pada hari pernikahan dengan kekasihnya. Selain itu, terdapat nilai moral lainnya yaitu kita harus menerima dengan lapang dada atas semua masalah yang terjadi di hidup kita.
  3. Nilai sosial: Peduli dengan sesama dan saling mendukung terhadap sesama yang sedang kesulitan atau sedih.
  4. Nilai pendidikan: Setiap orang harus mencari tujuan hidupnya masing-masing dan kehidupan tidak hanya berakhir pada perkawinan.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan: Cerita di novel ini sederhana dan menyentuh hati. Gaya bahasa yang digunakan di novel ini juga memiliki keanekaragaman. Gaya bahasa di dalam novel ini menggunakan beberapa majas seperti personifikasi, metafora, dan hiperbola dan lainnya. Gaya bahasa yang beraneka ragam inilah yang meningkatkan imajinasi pembaca dan membuat isi buku menjadi lebih indah.

Kekurangan: Cerita di novel ini berisi beberapa kata yang berasal dari bahasa Belanda. Untuk orang yang tidak mengerti, tentu sulit untuk memahami dikarenakan tidak adanya penjelasan mengenai kata-kata tersebut di dalam buku.


Penutup

        Novel ini memiliki nilai-nilai kehidupan yang baik terlebih untuk wanita. Buku ini menyampaikan bahwa seorang wanita harus selalu menjaga kehormatannya sampai hari pernikahan, dan juga apapun masalah yang terjadi di kehidupan harus dapat diterima secara lapang dada. Cerita yang disajikan sederhana namun indah karena kata-kata yang digunakan tidak membosankan dan meningkatkan imajinasi kita.