Judul buku : Mangkunegoro VI Sang Reformis
Penulis : Fachmi Ardhi
Penerjemah : -
Penerbit : PT Kompas Media Nusantara
Tahun terbit : 2021
Jumlah halaman : XXVIII + 196
Ukuran buku : 14 cm x 21 cm
Harga buku : Rp 95.000,00
ISBN : 978-623-346-244-0
Cetakan : 2021
Tema
Buku Mangkunegoro VI Sang Reformis adalah sebuah buku yang mengandung tema sejarah. Buku ini menjelaskan tentang konsep kekuasaan yang dianut oleh orang Jawa, yang dimana Mangkunegoro VI sebagai pemimpin monarki Jawa melakukan langkah besar dengan mendobrak tradisi Kerajaan Jawa yang feodal dan melakukan pembaharuan kebijakan ekonomi. Hal ini dilakukan demi mewujudkan Kerajaan Jawa yang mandiri dan makmur.
Pembuka
Buku Mangkunegoro VI Sang Reformis merupakan sebuah buku yang ditulis oleh beberapa penulis yang terdiri dari Fachmi Ardhi, Insan Praditya Anugrah, Tika Ramadhini, dan Tri Astrini Megaputri Janis. Mereka adalah sebagian dari kelompok anak muda pecinta sejarah yang tergabung di dalam komunitas History Inc. Komunitas ini adalah “detektif” yang berusaha untuk menggali dan merekonstruksi misteri dari masa lalu, mereka percaya bahwa mengetahui dan berbagi pengetahuan sejarah bisa jadi menyenangkan untuk semua orang.
Isi
Praja Mangkunegaran merupakan salah satu pecahan dari kerajaan besar di Jawa yaitu Kerajaan Mataram. Ketika Kerajaan Mataram terpecah belah karena banyaknya pemberontakan serta kehadiran VOC, kerajaan besar tersebut terpecah belah menjadi empat kerajaan “solo karier”, terdiri dari Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman. Pada Maret 1757, Raden Mas Said resmi bergelar Pangeran Adipati Mangkunegoro I setelah mengucapkan sumpah setia kepada Surakarta, Yogyakarta, dan VOC. Pada abad ke-19, praktik kolonialisme begitu erat mencengkram Jawa, karena kuasa-kuasa lokal seperti Yogyakarta, Surakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman tidaklah berdaya melawan kekuatan kolonial. Dari adanya cultuurstelsel atau tanam paksa dan juga karesidenan yang berperan membatasi kekuasaan para aristokrat Jawa.
Pada zaman perubahan pesat ini, kuasa Mangkunegaran diteruskan secara turun-temurun oleh Mangkunegoro II, Mangkunegoro III, Mangkunegoro IV, Mangkunegoro V, hingga Mangkunegoro VI. Dari raja-raja Mangkunegoro yang ada, Mangkunegoro VI merupakan raja yang unik karena memiliki kecenderungan untuk mengambil tindakan tidak biasa yang berseberangan dengan pemerintahan kolonial. Hal ini membuat pemerintah kolonial Belanda menaruh ketidaksukaan kepada Mangkunegoro VI sehingga mereka melakukan berbagai upaya untuk menyingkirkannya.
Mangkunegoro VI atau Raden Mas Suyitno lahir pada 13 Maret 1857. Ia merupakan anak dari Mangkunegoro IV, yang dibesarkan dalam gemerlap istana berkat kejayaan yang dibawa oleh sang ayah. Mangkunegoro IV atau Raden Mas Sudiro memang salah satu raja Jawa yang dikenal akan kesuksesannya. Ia berhasil memberikan kejayaan, terutama kejayaan secara finansial, bagi Tanah Jawa, antara lain lewat perkebunan kopi di daerah Gunung Lawu dan Wonogiri serta pabrik gula di Colomadu dan Tasikmadu. Ia juga dikenal sebagai raja yang berbakat dalam bidang musik dan karya sastra berbentuk prosa atau tembang macapat.
Raden Mas Suyitno diajarkan untuk bersikap rendah hati sedari kecil oleh ayahnya. Menginjak usia 10 tahun, ia mulai mengenyam pendidikan formal di Eropeesche Lagere School. Tetapi setelah itu ayahnya memindahkannya ke Sekolah Pamong Siswo milik Mangkunegaran. Hal ini karena ayahnya ingin Suyitno dapat menggali persoalan keseimbangan lahir dan batin yang hanya bisa di dapat melalui pelajaran moral dan etika jawa. Selain itu, di sekolah Pamong Siswo Suyitno juga mendapatkan kesempatan untuk mempelajari sejarah Praja Mangkunegaran, kerohanian, dan kebudayaan.
Di usia 16 tahun, Suyitno bergabung ke dalam Legiun Mangkunegaran. Ia memulai karier militernya dari jenjang yang paling rendah yaitu prajurit infanteri. Beberapa bulan kemudian, ia naik pangkat menjadi sersan dan membuahkan prestasi yang gemilang sehingga ia naik pangkat menjadi letnan dua pada tahun 1874. Satu tahun kemudian ia sudah diangkat menjadi letnan satu dan mendapat gelar Kanjeng Pangeran Harya (K.P.H.) Dayaningrat. Lalu pada tahun 1876, Suyitno diangkat menjadi Kapten Komandan Kompi Tiga Legiun Mangkunegaran.
Pada tahun 1881, Mangkunegoro IV meninggal dunia. Ia lalu digantikan oleh Raden Mas Sunito, yang dimana ketika diangkat untuk menggantikan ayahnya, Mangkunegoro V masih berusia 26 tahun. Sejak saat itu pula, Suyitno diangkat menjadi ajudan kakaknya. Tahun 1884, di usia 27 tahun Suyitno menikah dengan Raden Ajeng Hartati yang telah lama di pertunangkan dengannya. Tetapi karena pernikahannya dengan Hartati tidak dikaruniai anak, Suyitno pun mengambil lima orang selir lagi. Pada tahun 1887, Suyitno naik pangkat menjadi Mayor Intendan yang salah satu tugasnya mengelola gaji anggota Legiun Mangkunegaran.
Pada pemerintahan Mangkunegoro V, terjadi krisis ekonomi dunia yang menyebabkan penghasilan praja dari pabrik gula dan kopi berkurang. Praja Mangkunegaran mengalami kebangkrutan dan terlilit hutang pemerintahan kolonial. Sayangnya, Mangkunegoro V meninggal dunia di usia 40 tahun sebelum dapat mencari jalan keluar untuk masalah ekonomi ini. Akhirnya, pada 21 November 1896, Suyitno diangkat menjadi Mangkunegoro VI dan juga diangkat sebagai Kolonel Legiun Mangkunegaran.
Dalam urusan meneruskan cita-cita luhur Mangkunegoro IV yaitu memakmurkan Praja Mangkunegaran, ia berpegang teguh pada prinsip kejujuran, rendah hati, dan tanggung jawab. Beberapa upaya Mangkunegoro VI untuk menyelamatkan dan memakmurkan Praja Mangkunegaran adalah menyelamatkan pabrik gula, melakukan penghematan terutama kalangan bangsawan, membenahi anggaran keuangan, mengurangi frekuensi diadakannya acara-acara yang boros biaya, reorganisasi dan rasionalisasi pegawai. Upaya-upaya ini perlahan tapi pasti membuahkan hasil dimana keuangan praja menjadi membaik.
Mangkunegoro VI meninggalkan beberapa “warisan” yang lebih dari sekedar anekdot menarik, melainkan juga nilai-nilai yang menjadikannya berbeda dibandingkan para pendahulunya, yaitu kedisiplinan dalam bersikap dan waktu, mengubah gaya berpenampilan menjadi lebih rapih, bersih, sederhana dan praktis, menciptakan tiga belas motif batik baru untuk Praja Mangkunegaran, membangun infrastruktur dan fasilitas untuk rakyat, mengetatkan keamanan di desa-desa, memperkenalkan toleransi umat beragama dan multikulturalisme di keraton, serta menyederhanakan unsur-unsur etiket kerajaan.
Walau terdapat beberapa konflik yang terjadi dan beberapanya seputar suksesi, Mangkunegoro VI akhirnya dapat mengundurkan diri. Ia telah mengajukan surat pengunduran diri ke pemerintahan kolonial di tahun 1912 dan baru dikabulkan pada tanggal 22 Oktober 1916. Alasan Mangkunegoro VI memutuskan untuk mengundurkan diri adalah sebagai bentuk kedewasaan berpolitik, ia memilih untuk melawan pemerintah kolonial dengan cara menolak bekerja sama dengan pemerintah dan keluar dari lingkaran feodal. Mangkunegoro VI di gantikan oleh Raden Mas Suparto atau Mangkunegoro VII pada tanggal 3 Maret 1916.
Setelah turun takhta, Suyitno yang tidak lagi bergelar Mangkunegoro pindah bersama keluarganya ke Surabaya, tepat pada tanggal 14 Januari 1916 mereka berangkat kesana dengan menggunakan kereta. Mereka tinggal di sebuah bangunan yang sempat Suyitno beli sebelum mengundurkan diri. Pada tanggal 25 Juni 1928, Suyitno meninggal dunia di usia 71 tahun dikarenakan penyakit lambung. Di hari yang sama jenazahnya diangkut ke Solo dengan kereta, namun perjalanan dilanjutkan dengan mobil jenazah dari Sragen ke Cembengan. Di Cembengan, jasad Suyitno dipindah lagi ke kereta jenazah Keprabon Mangkunegaran. Kereta tersebut lalu memboyong jasad Suyitno ke Makam Astana Utara yang terletak di sebelah utara Keraton Mangkunegaran, tepatnya di Desa Manayu. Sesuai keinginan Suyitno, ia dimakamkan di Makam Astana Utara dan tidak di komplek pemakaman raja-raja Mangkunegaran sebelumnya. Pemakaman Mangkunegoro VI ini dilangsungkan pada 26 Juni 1928. Prosesnya disertai dengan upacara kerajaan dan dihadiri oleh ratusan bangsawan, pembesar, dan rakyat Solo.
Tokoh dan Penokohan
- Raden Mas Suyitno atau K.G.P.A.A. Mangkunegoro VI: Rendah hati, disiplin waktu, jujur, rapih, sederhana, hemat, kreatif, berfikir kritis, peduli rakyat, dan memiliki sikap toleransi.
- Raden Mas Sunito atau K.G.P.A.A. Mangkunegoro V: Mencintai seni dan budaya, kurang peka dalam menyadari bahwa terdapat beberapa pejabat yang korupsi.
- Raden Mas Sudiro atau K.G.P.A.A. Mangkunegoro IV: Cerdas, bijak, kreatif, rendah hati, jujur, menyayangi anak dan keluarga.
Setting/Latar
Latar yang paling sering digunakan di dalam Buku Mangkunegoro VI Sang Reformis ini adalah di kota Surakarta atau Solo. Dimana tempat tinggal dari Mangkunegoro VI dan keluarga kerajaan Mangkunegaran yaitu Pura Mangkunegaran, dan pusat daerah kekuasaan Mangkunegaran berada.
Nilai-Nilai
- Nilai Moral: Kita dapat belajar dari Mangkunegoro VI dimana ia memiliki sikap disiplin, menghargai waktu, jujur, dan bersikap rendah hati.
- Nilai Budaya: Di buku ini disebutkan beberapa kebudayaan Jawa yang telah dilakukan oleh Praja Mangkunegaran yang memang lah sebuah kerajaan Jawa. Tidak hanya itu buku ini juga memberikan amanah bahwa kita harus melestarikan budaya dan sastra negara.
- Nilai Pendidikan: Mangkunegoro VI adalah sosok yang suka belajar, baik itu dengan cara menambahkan pengalaman bekerja di Legiun dari jenjang paling rendah, mengamati lingkungannya, berkreasi membatik, dan lain-lain.
Kelebihan dan Kekurangan
- Kelebihan: Buku ini memiliki cerita yang menarik terlebih lagi untuk para penyuka sejarah, penyampaian ceritanya jelas sehingga poin-poin yang ingin disampaikan dapat dimengerti. Terdapat banyak sekali nilai-nilai kehidupan yang dapat dicontoh dari cerita Mangkunegoro VI Sang Reformis.
- Kekurangan: Dalam buku ini banyak menggunakan kata kata yang sulit dimengerti oleh kita karena menggunakan bahasa baku, dan juga terdapat beberapa kata yang cukup asing untuk para pembaca muda.
Penutup
Dari buku Mangkunegoro VI Sang Reformis ini kita dapat menyerap nilai-nilai positif yang dapat kita terapkan di kehidupan kita sehari-hari, seperti menjadi orang yang rendah hati, disiplin waktu, jujur, sederhana, hemat, kreatif, berfikir kritis, peduli sesama, bersikap toleransi, rajin, jangan lelah mencari ilmu, sayangi keluarga, melestarikan budaya dan sastra negara, serta cinta tanah air.
0 Komentar