Resensi Laut Bercerita

Laut Bercerita mengisahkan perjuangan kelompok aktivis mahasiswa di masa orde baru melawan pemerintahan orde baru yang otoriter serta kekejaman dan kebengisan dari berbagai pihak.

Laut Bercerita merupakan novel karya Leila Salikha Chudori yang terbit pada tahun 2017. Selain sebagai penulis novel, Leila Salikha Chudori juga bekerja sebagai wartawan. Maka dari itu, ia melakukan berbagai wawancara dan riset sebelum pembuatan novel Laut Bercerita. Karya-karya lain dari Leila Salikha Chudori adalah Kelopak-kelopak yang Berguguran (1984), Malam Terakhir: Kumpulan Cerpen (1989) diterbitkan kembali oleh Penerbit KPG pada tahun 2009, 9 dari Nadira (2009), dan Pulang (2012).

Kisah Laut Bercerita dimulai dengan menceritakan tokoh yang bernama Biru Laut. Ia adalah seorang mahasiswa berdedikasi dengan program studi Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dunianya berkisar dengan karya sastra yang klasik, baik itu karya sastra bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Laut bahkan melakukan hal nekat, yaitu memfotokopi dan membaca berbagai buku karangan Pramoedya Ananta Toer yang pada masa itu peredarannya dilarang di Indonesia. Ia memfotokopi buku-buku tersebut di sebuah tempat yang dijuluki sebagai fotokopi terlarang. Disana, Laut kebetulan bertemu dengan salah satu mahasiswa FISIP yang bernama Kinan. Ia mengenalkan organisasi bernama Winatra dan Wirasena kepada Laut.

Dari pertemuan tersebut, Laut tertarik dan bergabung dengan Kinan dalam organisasi Winatra. Kegiatan organisasi Winatra berkaitan dengan karya sastra, seperti diskusi buku-buku sastra dengan rekan seorganisasi. Selain membahas buku, ada konsep yang lebih besar dan dalam dari organisasi Winatra, yaitu untuk menentang doktrin pemerintah yang kepemimpinannya telah dikuasai oleh satu orang selama 30 tahun lebih di negara Indonesia. Organisasi Winatra ingin membebaskan rakyat Indonesia dari sistem pemerintahan yang otoriter dan tidak mempedulikan rakyat kecil. Akhirnya, para anggota organisasi mendiskusikan suatu rencana yang bernama Tanam Jagung Blangguan untuk membela rakyat yang haknya telah diambil oleh pemerintah. Diskusi tersebut dinamakan diskusi kwangju, awal mula dimana Laut dan rekan-rekannya merasakan pengkhianatan dari dalam organisasi. Seharusnya diskusi kwangju menjadi pertemuan rahasia yang hanya diketahui para anggota organisasi, namun diskusi terhambat karena adanya kedatangan Intel ke markas organisasi.

Setelah kejadian tersebut, tidak ada yang mengetahui pelaku yang membocorkan diskusi kwangju. Pada akhirnya, mereka tetap menjalankan aksi tanam jagung di Blangguan. Setelah aksi tersebut selesai, Laut dan rekan-rekannya berpisah ke berbagai daerah untuk menghindari diikuti. Saat Laut dan kedua temannya ingin pergi berpisah menaiki bus, mereka diikuti oleh sekelompok orang yang mencurigakan. Laut, Bram, dan Alex kemudian disekap oleh orang-orang tersebut ke suatu tempat seperti markas tentara. Di markas, Laut, Bram, dan Alex diinterogasi dan disiksa secara tidak manusiawi. Kelompok yang menyiksa mereka terus bertanya mengenai dalang dari aksi mereka. Mereka yang disiksa selama kurang lebih dua hari satu malam akhirnya dikembalikan ke terminal Bungurasih.

Disitu, Laut, Bram, dan Alex dijemput oleh kedua kakak dari Anjani. Mereka bertiga dibawa ke tempat yang aman dimana Daniel, Kinan, Anjani, beserta rekan-rekan lainnya menunggu mereka. Karena organisasi Winatra dan Wirasena menentang pemerintah orde baru pada saat itu, mereka menjadi buronan karena dianggap berbahaya bagi pemerintah pada tahun 1996. Setelah itu, nasib organisasi Winatra dan Wirasena memburuk. Dimulai dari Sunu, Mas Gala, dan Narendra yang tiba-tiba menghilang. Kemudian, kehilangan tersebut terus disusul oleh beberapa rekan yang lain. Akhirnya, Laut disusul dengan Daniel dan Alex yang menghilang. Mereka yang hilang dibawa ke suatu tempat dan disiksa secara tidak manusiawi.

Mereka terus-menerus disiksa untuk menjawab pertanyaan mengenai aktivitas organisasi Winatra dan Wirasena. Setelah Laut dan teman-temannya menghilang, keadaan pun berubah drastis, mempengaruhi orang-orang terdekat di sekitarnya. Keluarga Laut juga terpuruk atas kehilangannya.

Leila Salikha Chudori berhasil menggambarkan era orde baru yang kejam dan tidak manusiawi. Novel Laut Bercerita mempunyai visualisasi karakter dan suasana yang terasa nyata, sehingga novel ini menggugah perasaan pembaca. Lalu, novel Laut Bercerita juga memiliki nilai edukatif karena terdapat beberapa nilai dan edukasi tentang sejarah yang bisa didapatkan setelah membacanya.

Dalam Novel Laut Bercerita, ada sedikit kekurangan. Pertama, alur yang digunakan novel ini adalah alur campuran atau alur maju mundur. Hal tersebut dapat membuat pembaca yang tidak terbiasa dengan alur campuran kebingungan karena alurnya yang maju mundur dan memerlukan konsentrasi saat membacanya. Kedua, ada beberapa kalimat yang menggunakan bahasa Jawa namun tidak diterjemahkan atau kurang penjelasan, sehingga dapat membuat pembaca kebingungan menerjemahkannya.

Novel Laut Bercerita adalah novel sejarah yang menceritakan era orde baru. Terdapat berbagai kekejaman dan tindakan yang tidak manusiawi dari perlakuan pemerintah orde baru kepada para aktivis. Novel Laut bercerita membawakan cerita yang luar biasa dan mengharukan tentang perjuangan Laut dan rekan-rekannya. Walaupun kisah novel ini merupakan fiksi, perjuangan para aktivis pada era orde baru merupakan aksi nyata untuk memperjuangkan keadilan. Dari novel ini, kita diajarkan nilai perjuangan dan pantang menyerah yang bisa kita lihat dari para aktivis di dalam novel Laut Bercerita.