Judul Buku : Laut Bercerita
Penulis : Leila S. Chudori
Penerjemah : -
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun Terbit : 2017
Jumlah Halaman. : x+379 hlm
Ukuran Buku : 13,5 cm x 20 cm
Harga Buku : Rp 99,000,00
ISBN : 978-602-424-694-5
Cetakan : Kedelapanbelas
Tema
Novel Laut Bercerita menceritakan tentang sekelompok mahasiswa yang membentuk suatu perkumpulan untuk membahas dan berdiskusi mengenai karya sastra yang saat masa orde baru ditentang oleh pemerintah. Novel ini juga berkisah tentang keluarga dan sahabat yang merasa kehilangan, penghianatan, kekecewaan, dan sekelompok orang yang gemar menyiksa
Pembukaan
Novel ini ditulis oleh Leila Salikha Chudori, lahir di Jakarta 12 Desember 1962. Ia menempuh pendidikan di Trent University, Kanada. Karya awal yang ia buat dipublikasikan di berbagai media mulai ia berusia 12 tahun. Leila melahirkan kumpulan cerpen Malam Terakhir pada tahun 1989 yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Kumpulan cerpen 9 dari Nadira diterbitkan tahun 2009 dan mendapat Penghargaan Sastra dari Badan Bahasa. Adapun cerita lainnya yang ia tulis yaitu Pulang (2012) dan memenangkan Prosa Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2013.
Isi
Rasa asin darah, mata bengkak, dan luka-luka masih terasa begitu menyakitkan. Laut dibawa ke suatu tempat yang ia tidak tahu tujuannya oleh manusia-manusia yang mengurungnya di sel bawah tanah. Kepala ditutup oleh kain hitam, kaki diikat bersamaan dengan alat berat, dan tangan yang diikat membuat Laut tidak bisa melakukan apapun. Saat sudah tiba di tujuan, Laut diminta untuk berjalan cepat di jalan yang berbatu, lalu ia ditendang hingga terjatuh. Bau asin laut dapat ia rasakan. Saat itulah ia mengetahui dan berpasrah bahwa hidupnya akan berakhir. Salah satu manusia kejam itu menanyakan kepada Laut, siapa yang menjadi ketua Winarta dan Wirasena. Karena Laut tidak ingin teman-temannya bernasib sama sepertinya, maka ia tidak menjawab. Laut ditendang dan didorong dari atas tebing ke bawah hingga tercebur ke Laut dan tenggelam.
Seyegan, 1991. Tempat pertemuan Biru Laut dengan teman-temannya yaitu Kinan, Tama, Alex, Sunu, Daniel, Gusti, Coki, dan lainnya untuk membahas karya sastra terlarang dan menentang orde baru. Rumah yang berada di Seyegan, Desa Pete Margodadi menjadi rumah yang digunakan oleh para mahasiswa untuk membahas mengenai karya sastra yang terlarang itu. Para mahasiswa menyebut rumah tersebut dengan sebutan "Rumah Hantu Seyegan" karena letaknya jauh dari tengah kota, dari kampus, atau disebut jauh dari peradaban. Mereka memiliki 2 fotografer handal yang sering sekali berdebat karena perbedaan cara foto. Alex yang menggunakan kameranya untuk berfoto black and white sering sekali terganggu oleh kamera blitz Gusti. Di tempat inilah, Laut menemukan wanita yang disukainya yaitu Anjani. Sudah hampir 3 bulan, Laut tidak balik ke rumahnya yang ada di Ciputat. Ia sibuk untuk berkumpul bersama teman-temannya di Rumah Hantu Seyegan itu. Pada akhir bulan ke-3, Laut dihubungi dan sudah di omeli oleh Asmara, adiknya karena tak kunjung pulang ke rumah. Akhirnya, Laut pulang ke rumah. Seperti biasanya yang mereka lakukan setiap hari minggu terakhir pada bulan tersebut, mereka makan bersama di meja makan dengan hidangan yang sudah disiapkan oleh ibu. Laut menceritakan kesibukannya selama kuliah, tetapi ia tidak memberi tahu mengenai kegiatannya di Rumah Hantu Seyegan bersama teman-teman lainnya. Jika Laut memberitahu kesibukannya itu kepada orang tuanya, maka mereka pasti khawatir dan tidak mengizinkan Laut untuk melakukan hal tersebut itu.
Blangguan, 1993. Aksi blangguan dilakukan untuk membantu para petani dalam menanam banyak padi. Ketika mereka sudah sampai di Blangguan dan menetap di rumah-rumah warga, aksi mereka terhalangi dengan para tentara yang sedang melakukan patroli di sekitar perumahaan warga tersebut. Karena menurut mereka jika terus melanjutkan aksi ini, akan membahayakan mereka. Maka dari itu, mereka memutuskan untuk pergi dari daerah yang mereka kunjungi dan keluar melalui sawah ketika hujan deras. Sesampainya mereka di bis, di pertengahan jalan mereka diberhentikan oleh mobil polisi. Sang supir bus pintar berbohong kepada polisi tersebut dengan mengatakan bahwa ia mengantar sekumpulan mahasiswa yang ingin berkunjung ke sebuah desa yang masih memiliki ladang. Akhirnya mereka tidak jadi tertangkap
Tahun 1998 menjadi tahun kekelaman bagi Winarta dan Wirasena. Mereka tertangkap dan disekap di dalam sel bawah tanah selama berbulan-bulan. Setiap harinya secara bergantian, mereka dibawa ke suatu ruangan dan di sanalah mereka disiksa dan di introgasi. Berbagai siksaan sudah mereka rasakan, seperti dipukul, diinjak, disetrum, digantung terbalik, bahkan diminta untuk berbaring di atas es balok selama berjam-jam. Suatu hari, Laut diambil dan diajak ke suatu ruangan untuk berbaring di atas es balok. Cahaya dan suara Blitz dari kamera bermunculan ketika ia sedang disiksa. Saat itulah Laut merasakan kekesalan dan kebencian yang sangat mendalam. Bagaimana bisa ia tidak mencium bau penghianat diantara teman-teman aktivisnya itu. Gusti, yang selalu memotret dengan cahaya blitznya ternyata intel yang selama ini mengintai dan membocorkan rahasia mereka. Rasa kekecewaan Laut lebih menyakitkan dibandingkan siksaan yang diberikan kepadanya saat itu.
Pulau seribu, 2000. Total ada 9 orang kembali dan 13 lainnya masih belum diketahui keberadaanya termasuk Laut. Kembalinya teman-teman Laut membuat mereka beserta keluarga korban-korban penculikan berani untuk membentuk Komisi Orang Hilang. Mereka mencari informasi melalui keluarga atau kerabat dekat para korban. Setelah mendapat informasi dari dokter Mawardi, ahli forensik mengatakan bahwa warga menemukan beberapa tulang manusia yang mengambang di laut dan diasumsikan bahwa tulang tersebut merupakan milik mereka yang diculik dan berakhir dibuang di Laut. Beberapa tulang dikumpulkan dan sisanya sudah dikubur oleh warga setempat. Mendengar hal tersebut, membuat Asmara, Coki, dan Alex melakukan keberangkatan ke Pulau Seribu. Kunjungan kesana berakhir dengan kekecewaan, mereka tidak menemukan DNA yang cocok oleh para korban. Pada tahun-tahun berikutnya, para keluarga korban masih dihantui dengan rasa sedih dan penasaran yang mendalam karena tidak mengetahui keberadaan para korban. Beberapa dari mereka bahkan masih menganggap bahwa anak atau sahabat mereka yang hilang belum meninggal dan masih mencari tempat persembunyian.
Kelebihan Buku
Novel membawakan cerita bertemakan sejarah dan politik yang mampu menambah wawasan bagi yang membaca. Dengan membaca novel ini juga dapat menemukan kosa kata sastra. Suasana yang digambarkan dapat risakan oleh membaca.
Kekurangan Buku
Ada beberapa kalimat yang menggunakan bahasa jawa tetapi tidak ada terjemahan, dan juga beberapa kalimat sulit dimengerti jika hanya dibaca sekali jadi membutuhkan waktu untuk membaca.
Penutup
Novel ini mengajarkan kita untuk berani membela kebenaran dan rela berkorban. Suatu hal yang baru dapat dimulai dari diri sendiri. Novel ini juga mengajarkan untuk dapat bekerja sama dengan baik dan tidak meninggalkan teman dalam situasi apapun.
Penerjemah : -
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun Terbit : 2017
Jumlah Halaman. : x+379 hlm
Ukuran Buku : 13,5 cm x 20 cm
Harga Buku : Rp 99,000,00
ISBN : 978-602-424-694-5
Cetakan : Kedelapanbelas
Tema
Novel Laut Bercerita menceritakan tentang sekelompok mahasiswa yang membentuk suatu perkumpulan untuk membahas dan berdiskusi mengenai karya sastra yang saat masa orde baru ditentang oleh pemerintah. Novel ini juga berkisah tentang keluarga dan sahabat yang merasa kehilangan, penghianatan, kekecewaan, dan sekelompok orang yang gemar menyiksa
Pembukaan
Novel ini ditulis oleh Leila Salikha Chudori, lahir di Jakarta 12 Desember 1962. Ia menempuh pendidikan di Trent University, Kanada. Karya awal yang ia buat dipublikasikan di berbagai media mulai ia berusia 12 tahun. Leila melahirkan kumpulan cerpen Malam Terakhir pada tahun 1989 yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Kumpulan cerpen 9 dari Nadira diterbitkan tahun 2009 dan mendapat Penghargaan Sastra dari Badan Bahasa. Adapun cerita lainnya yang ia tulis yaitu Pulang (2012) dan memenangkan Prosa Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2013.
Isi
Rasa asin darah, mata bengkak, dan luka-luka masih terasa begitu menyakitkan. Laut dibawa ke suatu tempat yang ia tidak tahu tujuannya oleh manusia-manusia yang mengurungnya di sel bawah tanah. Kepala ditutup oleh kain hitam, kaki diikat bersamaan dengan alat berat, dan tangan yang diikat membuat Laut tidak bisa melakukan apapun. Saat sudah tiba di tujuan, Laut diminta untuk berjalan cepat di jalan yang berbatu, lalu ia ditendang hingga terjatuh. Bau asin laut dapat ia rasakan. Saat itulah ia mengetahui dan berpasrah bahwa hidupnya akan berakhir. Salah satu manusia kejam itu menanyakan kepada Laut, siapa yang menjadi ketua Winarta dan Wirasena. Karena Laut tidak ingin teman-temannya bernasib sama sepertinya, maka ia tidak menjawab. Laut ditendang dan didorong dari atas tebing ke bawah hingga tercebur ke Laut dan tenggelam.
Seyegan, 1991. Tempat pertemuan Biru Laut dengan teman-temannya yaitu Kinan, Tama, Alex, Sunu, Daniel, Gusti, Coki, dan lainnya untuk membahas karya sastra terlarang dan menentang orde baru. Rumah yang berada di Seyegan, Desa Pete Margodadi menjadi rumah yang digunakan oleh para mahasiswa untuk membahas mengenai karya sastra yang terlarang itu. Para mahasiswa menyebut rumah tersebut dengan sebutan "Rumah Hantu Seyegan" karena letaknya jauh dari tengah kota, dari kampus, atau disebut jauh dari peradaban. Mereka memiliki 2 fotografer handal yang sering sekali berdebat karena perbedaan cara foto. Alex yang menggunakan kameranya untuk berfoto black and white sering sekali terganggu oleh kamera blitz Gusti. Di tempat inilah, Laut menemukan wanita yang disukainya yaitu Anjani. Sudah hampir 3 bulan, Laut tidak balik ke rumahnya yang ada di Ciputat. Ia sibuk untuk berkumpul bersama teman-temannya di Rumah Hantu Seyegan itu. Pada akhir bulan ke-3, Laut dihubungi dan sudah di omeli oleh Asmara, adiknya karena tak kunjung pulang ke rumah. Akhirnya, Laut pulang ke rumah. Seperti biasanya yang mereka lakukan setiap hari minggu terakhir pada bulan tersebut, mereka makan bersama di meja makan dengan hidangan yang sudah disiapkan oleh ibu. Laut menceritakan kesibukannya selama kuliah, tetapi ia tidak memberi tahu mengenai kegiatannya di Rumah Hantu Seyegan bersama teman-teman lainnya. Jika Laut memberitahu kesibukannya itu kepada orang tuanya, maka mereka pasti khawatir dan tidak mengizinkan Laut untuk melakukan hal tersebut itu.
Blangguan, 1993. Aksi blangguan dilakukan untuk membantu para petani dalam menanam banyak padi. Ketika mereka sudah sampai di Blangguan dan menetap di rumah-rumah warga, aksi mereka terhalangi dengan para tentara yang sedang melakukan patroli di sekitar perumahaan warga tersebut. Karena menurut mereka jika terus melanjutkan aksi ini, akan membahayakan mereka. Maka dari itu, mereka memutuskan untuk pergi dari daerah yang mereka kunjungi dan keluar melalui sawah ketika hujan deras. Sesampainya mereka di bis, di pertengahan jalan mereka diberhentikan oleh mobil polisi. Sang supir bus pintar berbohong kepada polisi tersebut dengan mengatakan bahwa ia mengantar sekumpulan mahasiswa yang ingin berkunjung ke sebuah desa yang masih memiliki ladang. Akhirnya mereka tidak jadi tertangkap
Tahun 1998 menjadi tahun kekelaman bagi Winarta dan Wirasena. Mereka tertangkap dan disekap di dalam sel bawah tanah selama berbulan-bulan. Setiap harinya secara bergantian, mereka dibawa ke suatu ruangan dan di sanalah mereka disiksa dan di introgasi. Berbagai siksaan sudah mereka rasakan, seperti dipukul, diinjak, disetrum, digantung terbalik, bahkan diminta untuk berbaring di atas es balok selama berjam-jam. Suatu hari, Laut diambil dan diajak ke suatu ruangan untuk berbaring di atas es balok. Cahaya dan suara Blitz dari kamera bermunculan ketika ia sedang disiksa. Saat itulah Laut merasakan kekesalan dan kebencian yang sangat mendalam. Bagaimana bisa ia tidak mencium bau penghianat diantara teman-teman aktivisnya itu. Gusti, yang selalu memotret dengan cahaya blitznya ternyata intel yang selama ini mengintai dan membocorkan rahasia mereka. Rasa kekecewaan Laut lebih menyakitkan dibandingkan siksaan yang diberikan kepadanya saat itu.
Pulau seribu, 2000. Total ada 9 orang kembali dan 13 lainnya masih belum diketahui keberadaanya termasuk Laut. Kembalinya teman-teman Laut membuat mereka beserta keluarga korban-korban penculikan berani untuk membentuk Komisi Orang Hilang. Mereka mencari informasi melalui keluarga atau kerabat dekat para korban. Setelah mendapat informasi dari dokter Mawardi, ahli forensik mengatakan bahwa warga menemukan beberapa tulang manusia yang mengambang di laut dan diasumsikan bahwa tulang tersebut merupakan milik mereka yang diculik dan berakhir dibuang di Laut. Beberapa tulang dikumpulkan dan sisanya sudah dikubur oleh warga setempat. Mendengar hal tersebut, membuat Asmara, Coki, dan Alex melakukan keberangkatan ke Pulau Seribu. Kunjungan kesana berakhir dengan kekecewaan, mereka tidak menemukan DNA yang cocok oleh para korban. Pada tahun-tahun berikutnya, para keluarga korban masih dihantui dengan rasa sedih dan penasaran yang mendalam karena tidak mengetahui keberadaan para korban. Beberapa dari mereka bahkan masih menganggap bahwa anak atau sahabat mereka yang hilang belum meninggal dan masih mencari tempat persembunyian.
Kelebihan Buku
Novel membawakan cerita bertemakan sejarah dan politik yang mampu menambah wawasan bagi yang membaca. Dengan membaca novel ini juga dapat menemukan kosa kata sastra. Suasana yang digambarkan dapat risakan oleh membaca.
Kekurangan Buku
Ada beberapa kalimat yang menggunakan bahasa jawa tetapi tidak ada terjemahan, dan juga beberapa kalimat sulit dimengerti jika hanya dibaca sekali jadi membutuhkan waktu untuk membaca.
Penutup
Novel ini mengajarkan kita untuk berani membela kebenaran dan rela berkorban. Suatu hal yang baru dapat dimulai dari diri sendiri. Novel ini juga mengajarkan untuk dapat bekerja sama dengan baik dan tidak meninggalkan teman dalam situasi apapun.


0 Komentar