Isi Novel
Novel Harimau! Harimau! Bercerita tentang sekelompok orang yang pergi ke dalam hutan untuk mencari damar. Pada awalnya mereka semua merupakan orang yang terlihat baik dan suci, namun setelah terjadi sebuah tragedi di dalam hutan tersebut, sifat-sifat asli setiap tokoh mulai terlihat.Dalam cerita ini, terdapat sekelompok lelaki desa yang beranggotakan Buyung, Sanip, Wak Katok, Pak Haji, Sutan, Talib, dan Pak Balam melakukan perjalanan ke dalam hutan untuk mencari damar. Mereka bertujuh telah seminggu lamanya tinggal di dalam hutan mengumpulkan damar dan selalu pergi bersama, meskipun sebenarnya tidak berkongsi dan masing-masing menerima hasil penjualan damar yang dikumpulkannya sendiri. Akan tetapi mereka merasa lebih aman dan dapat saling membantu dalam melakukan pekerjaan apabila pergi bersama.
Mereka memiliki karakteristiknya masing-masing, dari Buyung yang merupakan anggota termuda di dalam kelompok tersebut, belum berkeluarga, dan belum memiliki pengalaman cinta. Sanip, Sutan, dan Talib merupakan anggota yang telah beristri dan mempunyai anak, serta berkelakuan baik karena pernah bekerja bersama-sama ketika ada orang membangun rumah, memperbaiki jalan-jalan, bandar, ataupun menyelenggarakan perhelatan. Pak Haji yang merupakan seorang pekerja keras karena sejak dia berumur tiga belas tahun telah mengikuti ayahnya untuk bekerja mencari damar hingga sekarang (umur enam puluh tahun). Pak Balam merupakan orang yang saleh beragama dan pemberani karena berani ikut mengangkat senjata melawan Belanda di tahun 1926. Dan Wak Katok, seorang ahli pencak dan dianggap dukun besar di kampung, serta terkenal juga sebagai pemburu yang mahir.
Hingga suatu ketika, mereka bertemu dengan Wak Hitam saat mengumpulkan damar di suatu huma miliknya, ia merupakan seseorang yang memiliki ilmu gaib yang sangat ditakuti dan mempunyai istri banyak. Salah satu dari istri Wak Hitam, Siti Rubiyah merupakan istri termuda dan tercantik yang menarik perhatian sekelompok lelaki desa pencari damar tersebut. Selama mereka beristirahat di huma Wak Hitam, mereka selalu berusaha untuk mencari kesempatan dan mengintip Siti Rubiyah saat ia mandi. Wak Hitam yang waktu itu sedang mengalami demam berat, tidak berdaya, dan sulit untuk beranjak dari ranjangnya itu tidak mengetahui perlakuan mereka, bahkan ternyata terdapat orang di antara mereka yang telah berhubungan terlarang dengan Siti Rubiyah.
Setelah beberapa hari mereka beristirahat di huma Wak Hitam, mereka melanjutkan perjalanan ke dalam hutan yang lebih dalam untuk mencari damar. Mereka sudah menetapkan jadwal untuk pencarian damar, saat terang mereka akan bekerja, sedangkan saat gelap mereka akan menyalakan api unggun, masak, mandi, dan melakukan sembahyang maghrib bersama. Namun, tiba-tiba Pak Balam merasa sakit perut, akhirnya dia pergi menuju ke ujung dari pencahayaan api unggun dan membelakangi kegelapan hutan raya, saat dia sedang membuang kotorannya dalam sekejap ada auman harimau dan melukai Pak Balam, yang untungnya masih dapat diselamatkan, dan ternyata sebelum kejadian itu terjadi, harimau tersebut telah memperhatikan sekelompok pencari damar tersebut dari kejauhan.
Setelah Pak Balam diberikan pengobatan dan mantra oleh Wak Katok, dia pun bercerita bahwa dia sempat memiliki firasat dan bermimpi tentang maut yang akan terjadi pada sekelompok pencari damar tersebut. Dalam mimpi tersebut, satu-satu anggota kelompok akan diterkam oleh harimau hingga tidak tersisa dikarenakan setiap anggota melakukan dosa besar. Dan menurutnya, harimau itu merupakan harimau siluman yang dikirimkan oleh Tuhan untuk memberikan hukuman kepada manusia-manusia berdosa seperti mereka semua. Dia pun langsung bertobat dan memberitahu dosa-dosa yang dia lakukan bersama Wak Katok, karena dulunya mereka berdua merupakan teman seperjuangan saat melawan Belanda di tahun 1926.
Wak Katok pun kesal karena merasa dipermalukan atas dosa yang selama ini dia rahasiakan, namun dengan mudahnya Pak Balam memberitahu itu semua. Untuk menutupi kekesalan itu, Wak Katok seolah-olah merapalkan mantranya dan menjelaskan bahwa yang harimau yang menerkam Pak Balam adalah harimau biasa yang kelaparan. Mereka semua pun merasa lega dan tenang kembali, karena tidak perlu untuk mengaku dosa di depan banyak orang.
Namun, ternyata benar yang dikatakan oleh Pak Balam, semenjak kejadian tersebut satu per satu dari mereka itu terkena serangan dari harimau, dari Talib, Sutan, hingga nafas terakhir Pak Balam karena dia sudah tidak dapat bertahan dengan luka-luka yang dialaminya, dan menyisakan empat orang, yakni Buyung, Sanip, Wak Katok, dan Pak Haji. Sebelumnya, Talib dan Sutan telah memberitahu dosa yang mereka lakukan bersama Sanip, dan salah satu dari kelompok pencari damar tersebut juga sempat melihat bahwa Wak Katok telah melakukan hubungan terlarang dengan Siti Rubiyah.
Karena hal tersebut, mereka menganggap bahwa harimau tersebut merupakan harimau kiriman Wak Hitam dan mereka semakin memojokkan Wak Katok, hingga Wak Katok semakin marah dan akhirnya memisahkan diri dengan Buyung, Sanip, dan Pak Haji dengan membawa senapan miliknya. Ternyata dengan Wak Katok yang tersisa sendiri, itu membuatnya takut dalam menghadapi hutan yang gelap dan semakin waspada dengan pergerakan atau suara-suara yang timbul di sekitarnya. Sedangkan, dari sisi Buyung, Sanip, dan Pak Haji merasa bahwa mereka perlu senapan yang dibawa Wak Katok untuk membunuh harimau.
Kemudian, setelah mereka bertiga berdiskusi, mereka memutuskan untuk melakukan penyergapan kepada Wak Katok. Saat mendekati Wak Katok, ternyata dia sadar dan langsung menembaki Pak Haji yang berada di depannya, namun Buyung dan Sanip berhasil memukul kepala Wak Katok dengan tongkat kayu dan membuat Wak Katok tidur sementara. Karena tembakan yang terkena Pak Haji cukup dalam dan tidak memungkinkan untuk selamat, maka dia mengaku seluruh dosa-dosanya serta memberikan nasihat kepada Buyung dan Sanip, dia berkata bahwa sebelum Buyung dan Sanip membunuh harimau tersebut, mereka harus bunuh harimau dalam hati mereka terlebih dahulu. Pak Haji mengatakan seperti itu karena melihat Buyung yang ingin membalaskan perbuatan Wak Katok dengan membunuhnya, padahal semua itu telah terjadi dan tidak ada artinya bagi Buyung untuk melakukan dosa besar yaitu pembunuhan.
Akhirnya, dengan nasihat dari Pak Haji, Buyung dan Sanip berhasil mengalahkan harimau dengan menjadikan Wak Katok sebagai umpan harimau, namun Wak Katok tidak dibiarkan terbunuh oleh harimau tersebut. Mereka tetap selamatkan Wak Katok dan mengampuninya, namun nantinya setelah kembali ke desa, mereka akan melaporkan Wak Katok atas kepalsuannya selama ini menjadi dukun besar di desa dan pembunuhannya.
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan:
Novel ini memiliki cerita yang menarik, memancing perasaan pembaca untuk dapat ikut merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh dalam cerita, hingga nilai-nilai yang ingin disampaikan dari cerita tersebut.
Kekurangan:
Novel ini memiliki bahasa yang cukup asing atau jarang ditemui di zaman sekarang, sehingga memerlukan pencarian tentang arti dari suatu kata atau kalimat tersebut.
Penutup
Novel ini dikhususkan bagi orang yang telah memiliki pemikiran dewasa dan dapat menyaring nilai positif yang dapat diambil, sehingga tidak meniru perilaku atau tindakan yang bersifat negatif di dalam cerita. Novel ini disajikan dengan alur cerita yang menarik dan membawakan nilai-nilai agama, sosial, dan moral yang membuat para pembaca seolah-olah diajak untuk merefleksikan dirinya.

0 Komentar