Kubah

Tidak mudah bagi seorang lelaki untuk mendapatkan kembali tempatnya di masyarakat setelah 12 tahun tinggal dalam pengasingan di Pulau B. Apalagi hati masyarakat memang pernah dilukainya. Karman, lelaki itu, juga telah kehilangan orang-orang yang dulu selalu hadir dalam jiwanya. Istrinya telah menikah dengan lelaki lain, anaknya ada yang meninggal, dan yang tersisa tak lagi begitu mengenalnya. Karman memikul dosa sejarah yang amat berat dan dia hampir tak sanggup menanggungnya. Namun di tengah kehidupan yang hampir tertutup baginya, Karman masih bisa menemukan seberkas sinar kasih sayang. Dia dipercayai oleh Pak Haji, orang terkemuka di desanya yang pernah dikhianatinya karena dia sendiri berpaling dari Tuhan, untuk membangun kubah masjid di desa itu. Karman merasakan menemukan dirinya kembali, menemukan martabat hidupnya.

Cerita dimulai dengan kepulangan Karman setelah keluar dari tempat pengasingan selama 12 tahun karena Ia merupakan anggota partai merah ke kampung halaman, dan kepada Tuhan. Lalu tentang anaknya, Tini. Kemudian kejadian-kejadian yang memulai dendam dan cuci otak Kawan Margo, si petinggi partai.

Sewaktu kecil, hidup Karman sangat sederhana setelah ditinggal ayahnya untuk selamanya. Hidupnya serba susah. Sampai-sampai ia hanya bisa menamatkan sekolah SMP, itupun atas bantuan dari Hasyim pamannya. Semasa kecilnya ia sudah diajarkan bekerja keras. Untuk makan sehari-harinya ia harus bekerja membantu setiap pemanen yang hendak memanen sawahnya. Ia juga bekerja pada Haji Bakir, ia disuruh menjaga dan menemani Rifah anak bungsu Haji Bakir untuk bermain.

Ketika dewasa ia dikenal sebagai sosok yang cerdas dan sangat berpotensi dalam bidang politik. Meskipun demikian, ia memiliki sifat mudah terpengaruh oleh orang lain. Hal tersebut menjadikannya terjerumus ke jalan yang salah. Ia menjadi salah satu anggota PKI.

Setelah kejadian G30S PKI, dimana para anggota PKI menculik dan membunuh perwira-perwira tinggi negara, Indonesia mengadakan pembersihan paham komunis. Siapapun yang bergabung dan berhubungan dengan PKI ditangkap dan dijebloskan ke penjara, termasuk Karman. Di dalam penjara tersebut Karman benar-benar mengakui kalau selama ini dia telah masuk ke dalam paham yang salah. Ia mulai mengerti bahwa ajaran PKI itu salah.

Setelah keluar dari penjara, ia tidak lagi hidup bersama istrinya. Karena istrinya sudah menikah lagi dengan laki-laki lain. Akan tetapi, hal tersebut tidak berlangsung lama, Marni mantan istri Karman akhirnya kembali kepelukan Karman. Mereka menjalani hidup normal. Hingga pada suatu ketika, Karman melihat masjid milik Haji Bakir telah usang dan terlihat sangat tua. Ia ingat dengan pendidikan keterampilan bertukang saat dia berada dipenjara. Ia lalu menemui Haji Bakir, dan menawarkan diri untuk membangun kubah asalkan materialnya disediakan, dan Haji Bakir menyetujuinya. Dan akhirnya proses pembuatan kubah dan perbaikan masjid itu selesai. Karman beserta yang lainnya sangat puas sekali. Setelah itu, Karman menjadi sangat dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hingga akhirnya ia menjadi rajin beribadah.

Terasa nyata seperti kehidupan. Buku ini mengandung pesan-pesan yang mendalam. Bahasa yang digunakan tidak terlalu berbelit belit sehingga mudah untuk memahami.

Alur yang digunakan  alur campuran yang terkadang membuat bingung pembaca. Serta ada beberapa bahasa yang sulit untuk dipahami oleh pembaca.

Novel ini cocok untuk pembaca yang menyukai bacaan ringan dan sejarah karena terlalu pusing. Pengarang juga menyelipkan pesan-pesan sehingga cocok untuk dibaca oleh semua orang.