Judul Buku : Sebuah Novel 1998
Penulis : Ratna Indraswari Ibrahim
Penerjemah : -
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2012
Jumlah Halaman : 328 Halaman
Ukuran Buku : 200mm x 135mm x 20mm
Harga Buku : -
ISBN : 978-602-03-4156-9
Cetakan : Cetakan Pertama September 2012
Kerusuhan pada tahun 1998 menurut pandangan kota Malang
Novel 1998 adalah karya terakhir Ratna Indraswari Ibrahim yang berpulang pada 28 Maret 2011. Tragedi orang hilang pada masa 1998 membuat Ratna mendokumentasikannya dalam bentuk novel. Novel ini bisa dikatakan sebuah tribute dari Ratna bagi perjuangan orang-orang yang akan selalu menolak untuk lupa atas tragedi yang disisakan oleh tahun 1998.
Novel yang menceritakan tentang Putri, sang anak walikota Malang dan juga merupakan mahasiswa di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya. Di universitasnya, Putri juga memiliki majalah di setiap fakultas dan pada setiap penerbitan majalahnya sangat diawasi oleh pemerintah pada zaman itu, dan hal ini membuat Putri dan kawan-kawannya terhambat dalam menumpahkan kekreatifitasan, serta pemikiran kritis terhadap pemerintah.
Putri juga dilarang oleh kedua orang tuanya untuk tidak terjun kedalam dunia tersebut, namun apa yang bisa diperbuat lagi, Putri sudah lama meneliti tentang politik melalui buku bacaan sang Ayah dan juga didukung oleh Pemikiran dari sang kekasih yang merupakan seorang aktivis aktif, yakni Neno. Neno dan keluarganya sangat aktif dalam membicarakan bagaimana keadaan politik saat itu, Neno juga aktif mengikuti demo di Jakarta sebagai perwakilan mahasiswa Malang dan juga demo di Malang sendiri, hingga suatu ketika Neno menghilang sampai halaman terakhir buku tidak diketahui keberadaannya.
Peristiwa 1998 tidak jauh dari diskriminasi ras Tionghoa, maka disinilah tokoh Heni dihadirkan dan menjadi kawan dekat bagi Putri dan Neno. Pada saat kerusuhan terjadi, diceritakan bahwa Heni mencintai Indonesia dengan penuh hatinya namun karena Ia merupakan ras Tionghoa hal ini membuat rasa cintanya tidak terlihat sama sekali.
Heni berada di Sydney pada saat kerusuhan terjadi dan caranya berkomunikasi dengan Putri adalah melalui surat elektronik. Pada akhir cerita, Putri sering mengunjungi rumah orangtuanya dan memberikan kabar bahwa Ia sudah menikah dengan Marzuki dan memberikan sepenuh cintanya kepada Neno dan dipindahkan kepada kedua anaknya kelak.
Novel ini banyak mengambil latar tempat Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya Malang karena Putri merupakan mahasiswa dan kejadian 1998 banyak mengambil peran mahasiswa dalam memperjuangkan Orde Baru. Latar tempat juga banyak diambil di daerah Solo.
Kelebihan dan Kekurangan
a. Kelebihan
Penjelasan latar tempat serta suasana sangat rinci sehingga memberikan kesan yang bisa dirasakan kepada pembaca Bahasa yang digunakan mudah dipahami untuk tema yang terbilang cukup berat yaitu kejadian tahun 1998.
b. Kekurangan
Buku ini memiliki banyak cerita yang diambil dari sudut pandang setiap tokoh yang ada didalam cerita. Hal ini bisa membuat para pembaca bingung dari sisi tokoh manakah cerita pada bagian suatu bab dalam buku tersebut. Banyak bahasa daerah yang digunakan tanpa adanya penerjemah.
Novel ini memberikan banyak sekali nilai yang bisa diambil dan juga edukasi bagaimana keadaan di daerah lain selain Jakarta pada saat 1998 berlangsung. Novel ini sangat direkomendasikan kepada pembaca yang ingin mengetahui bagaimana keadaan 1998 di daerah lain atau sekedar ingin mengetahui informasi tentang 1998 melalui sudut pandang anak “pemerintah” sendiri pada saat itu.
Novel ini banyak mengambil latar tempat Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya Malang karena Putri merupakan mahasiswa dan kejadian 1998 banyak mengambil peran mahasiswa dalam memperjuangkan Orde Baru. Latar tempat juga banyak diambil di daerah Solo.
Kelebihan dan Kekurangan
a. Kelebihan
Penjelasan latar tempat serta suasana sangat rinci sehingga memberikan kesan yang bisa dirasakan kepada pembaca Bahasa yang digunakan mudah dipahami untuk tema yang terbilang cukup berat yaitu kejadian tahun 1998.
b. Kekurangan
Buku ini memiliki banyak cerita yang diambil dari sudut pandang setiap tokoh yang ada didalam cerita. Hal ini bisa membuat para pembaca bingung dari sisi tokoh manakah cerita pada bagian suatu bab dalam buku tersebut. Banyak bahasa daerah yang digunakan tanpa adanya penerjemah.
Novel ini memberikan banyak sekali nilai yang bisa diambil dan juga edukasi bagaimana keadaan di daerah lain selain Jakarta pada saat 1998 berlangsung. Novel ini sangat direkomendasikan kepada pembaca yang ingin mengetahui bagaimana keadaan 1998 di daerah lain atau sekedar ingin mengetahui informasi tentang 1998 melalui sudut pandang anak “pemerintah” sendiri pada saat itu.
0 Komentar